CARA CEPAT TEPAT IBADAH UMROH

peluang usaha muslim travel umroh bersama wisataumrah.com

Senin, 17 November 2014

AJAK AJAK SEDEKAH DAPET 500rb/HARI

BONUS BERKAH Rp. 500.000,-/hari



"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."

(Q.S. Al-Baqarah 2:261)

SEGERA bergabung bersama program CERDAS Seluruh Muslim Nasional dapatkan BONUS BESAR hingga 2JUTA/hari+ SEDEKAH OTOMATIS ke seleuruh Penghafal Al-Qur'an HANYA DENGAN AJAK AJAK SEDEKAH, Anda SUKSES DUNIA AKHERAT selengkapnya klik disini

KEAJAIBAN SEDEKAH MEMANG NYATA

Banyak orang menjadikan sedekah sebagai amalan untuk meraih hajat yang diinginkan. Memang, demikianlah keutamaan sedekah yang hasilnya pun telah dibuktikan secara nyata oleh banyak orang. Salah satunya adalah seorang sekuriti Bandara yang bisa menghajikan ibunya setelah bersedekah dan memperbaiki shalatnya.

Kisah ini berawal saat Ustadz Maulana sedang berada dalam perjalanan menuju bandara untuk menjemput seorang kolega. Karena capek, ia pun tertidur. Namun tiba-tiba, beliau terbangun karena hendak buang air kecil. Tak lama kemudian ia dan sopirnya sampai juga ke bandara, Ustadz Maulana ingin segera ke toilet, sehingga meminta sopirnya untuk menurunkannya di tempat terdekat menuju toilet.

Saat membuka pintu untuk keluar mobil, tiba-tiba seorang sekuriti bandara memanggilnya. Ustadz Maulana agak terkejut, merasa jangan-jangan ada larangan untuk menurunkan penumpang di sembarangan tempat.



“Pak Ustadz!” Seru sang sekuriti sambil melambai dan mendekatinya. Ustadz Maulana pun berhenti dan menungggu.

“Alhamdulillah, nih. Bisa ketemu langsung dengan Pak Ustadz. Biasanya kan cuma bisa lihat di TV aja...”

Ustadz Maulana pun tersenyum mendengar penuturan sekuriti tersebut. “Saya ke Toilet dulu, ya? “Ujarnya.
“Nanti saya ingin ngobrol, boleh pak Ustadz?” Lanjut sekuriti.
“Saya lagi buru-buru, loh. Tentang apaan sih?” Tanya sang Ustadz.
“Saya bosen jadi satpam, Pak Ustadz,” ungkap sang sekuriti.

Sejujurnya kemudian Ustadz Maulana tersadar. Barangkali Allah memang punya sekenario memberhentikan dirinya di tempat ini dan bertemu dengan sekuriti tersebut.
“Oke, nanti setelah dari toilet, ya?”
Beberapa saat setelah itu...
“Jadi bagaimana, bosen jadi satpam? Emangmnya nggak gajian?” Tanya Ustadz Maulana membuka percakapan di kedai kopi sekitar area itu.
        “Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini saja?”

        Selanjutnya obrolan terus berlangsung. Intinya, Ustadz Maulana menyarankan agar sang sekuriti memperhatikan betul-betul datangnya waktu shalat. Shalat hendaknya di awal waktu. Segera setelah adzan berkumandang. Jika ingin urusannya diperhatikan Allah maka kita pun jangan mengabaikan panggilan Allah. Pakaian pun perlu diperhatikan. Gunakan dan siapkan pakaian terbaik untuk bertemu Allah SWT.

        “Yang kedua,” lanjut Ustadz, “keluarin sedekahnya.”

        Sang sekuriti tertawa. “Pak Ustadz, bagaimana mau sedekah. Hari gini aja nih, udah pada abis belanjaan. Hutang di warung terpaksa dibuka lagi. Alias ambil dulu, bayar belakangan.”

        Selanjutnya, sang sekuriti bercerita bahwa gajinya sebesar 1,7 juta Rupiah per bulan. Itu diperolehnya setelah kerja siang, sore, dan malam selama tujuh tahun. Gaji tersebut untuk bayar motor, kontrakan, susu anak, dan bayar segala macamnya.

        “Secara dunianya, lepas saja itu tanggungan. Kaya motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan nggak perlu?” Tanya Ustadz Maulana setelah tahu sang sekuriti tinggal di mess.

        “Pengen kayak orang-orang, Pak Ustadz,” ujar sekuriti.

        “Yaa... Susah kalau begitu mah. Pengen kayak orang-orang, tapi yang ditiru motornya. Bukan meniru ilmu dan ibdahnya. Bukan meniru cara dan kebaikannya. Wah, benar-benar repot...”

        Selanjutnya Ustadz Maulana menekankan kembali pentingnya tekad kuat sang sekuriti untuk memperbaiki shalatnya. Mulai dari tepat waktu saat shalat wajib, juga menambah amalan shalatnya dengan shalat sunnah seperti shalat taubat, shalat hajat, shalat dhuha, dan shalat tahajudnya. Sang sekuriti pun berjanji akan melakukan semua amalan tersebut mengajak bersama istri dan anak-anaknya. Ia pun benjanji lebih rajin membaca Al Quran.
        Mengenai sedekah, sang sekuriti masih sayang menjual motornya untuk sedekah. Uang tidak punya, apalagi emas. Tak kurang akal, Ustadz Maulana mengusulkan sang sekuriti agar menyedekahkan gajinya bulan depan alias kas bon di awal.

        Di lain hari, karena benar-benar ingin merubah hidupnya, sekuriti yang aslinya punya gelar sarjana akutansi ini memberanikan diri mengajukan kas bon. Alhamdulillah, dikabulkan. Hal ini disebabkan alasan sang sekuriti yang mengikuti saran Ustadz Maulana. Sang Bos dan teman-temannya ingin juga melihat bukti dari kehebatan sedekah dengan melihat perkembangan sang sekuriti selanjutnya. Jika sebelum akhir bulan hutang lagi, berarti saran dan perbuatan pada sekuriti tersebut gagal. Setelah ditunggu-tunggu, ternyata si sekuriti tidak juga datang untuk menghutang lagi. Namun, motornya tidak lagi dilihat kawan-kawannya. Apa yang terjadi?

        Tadinya, si sekuriti sudah siap-siap mau kas bon lagi, karena sampai pertengahan bulan belum ada tanda-tanda keajaiban. Namun, tanpa disangka-sangka si sekuriti ketiban rejeki nomplok. Meski Cuma memediasi antara penjual dan pembeli, ia mendapatkan bagian dari transaksi penjualan tanah di kampungnya. Berapa yang didapatkan ? 17, 5 juta rupiah! 10 x lipat dari yang ia sedekahkan.

Menyadari begitu dahsyatnya kehebatan sedekah, ia malu kepada Allah. Apa yang ia dapatkan sungguh luar dugaannya. Oleh sebab itu, ia pun menjual motor kesayangannya seharga 13 juta rupiah. Ditambah dengan 12 juta dari hasil transaksi tanah, ia memberangkatkan ibunya naik haji. Sisanya yang lima juta pun menjadi bekal keperluannya sehari-hari. Dengan begitu, ia tidak perlu kas bon lagi.

        Cerita sang sekuriti membuat sang Bos menjadi takjub. Dikumpulkannya para staf dan karyawan untuk mendengar penuturan langsung dari sang sekuriti.

        Kisah ini bukan bercerita tentang keajaiban sedekah dan shalat semata, tetapi juga tentang keyakinan. Benar, keyakinan bahwa Allah SWT yang Maha Kaya. Jika Allah SWT sudah berjanji akan memberikan keberuntungan kepada hamba-Nya, ia tidak akan pernah mengikari janji itu.

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki), dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah[2]: 245).



Jumat, 14 November 2014

SUKIYEM, AHLI IBADAH YANG JASADNYA TETAP UTUH SELAMA 30 TAHUN

                Sukiyem adalah sebuah keanehan baru yang terjadi di daerah jangkar, Situbondo, Jawa Timur. Meskipun telah terkubur selama 30 tahun, jasad seorang wanita bernama Sukiyem masih utuh dan bahkan menggeluarkan bau wangi ketika akan dipindahkan.

                Tentu saja, kejadian ini membuat warga sekitar keheranan dan tidak habis pikir. Bagaimana mungkin jasad yang sudah tiga puluh tahun terkubur masih wangi dan utuh.

                Ceritanya berawal dari anak cucu Sukiyem yang hendak memindahkan jasadnya ke daerah lain agar dekat dengan suaminya. Tidak disangka, ketika kuburannya digali, jasad dan kain kafannya tetap utuh dan berbau wangi. Warga merasa takjub dan kemudian mereka bersama-sama memanjatkan doa kepadda Allah Swt. Untuk jasad Sukiyem agar tenang dan mendapat ridha dari Allah Swt.

                Sukiyem yang merupakan warga Desa Jangkar, Kecamatan Jangkar, Situbondo, Jawa Timur merupakan sosok penyabar dan rajin beribadah.  Ia juga ramah dan bersikap ramah terhadap tetangga. Salah satu keluarga yang bernama Ismail dan warga sekitar mengaku heran kenapa jasad Sukiyem tersebut masih utuh dan berbau wangi.

                Padahal, Sukiyem meninggal tiga puluh tahun lalu akibat komplikasi. Hal inilah yang menjadi perbincangan hangat dan menghebohkan warga masyarakat. Meskipun ada kejadian demikian, Ismail akan tetap memindahkan jasad Sukiyem ke pemakaman lain yang masih di dalam lingkungan Desa Jangkar, yang berdekatan denan makam Suaminya.

                Dengan kejadian ini, Allah Swt. Rupanya ingin menunjukkan kekuasaan-Nya kepada manusia. Bukan hal yang sulit bagi Allah Swt, menjaga jasad hamba-hamba-Nya yang shalih dan shalihah tetap utuh, bahkan setelah puluhan tahun. Fenomena ini sedang ingin menegaskan satu hal, Allah Swt. Menjaga hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih sayang. Tidak hanya saat mereka hidup, tetapi setelah mati pun jasad itu tetap utuh dan dalam perlindungan-Nya.



MBAH MUDZAKIR, MAKAMNYA TIDAK PERNAH TENGGELAM DI TENGAH LAUT

                Nama Kiai Mudzakir atau kerap dipanggil Mbah Mudzakir mungkin tidak setenar wali sanga. Tetapi, bagi masyarakat di lingkungan pesantren, namanya kerap disebut sebagai salah satu sosok kiai yang karismatik. Tidak hanya sesama ia masih hidup, setelah ia meninggal pun, makamnya tetap ramai diziarahi oleh orang-orang yang ingin mendoakannya.

                Kiai Mudzakir termasuk dari jajaran tokoh besar alias ulama yang gigih menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Hidupnya diabdikan kepada masyarakat untuk mengajarkan agama ilmu agama beserta praktik dan akidahnya. Tidak hanya itu, Kiai Mudzakir juga termasuk salah seorang pejuang kemerdekaan yang dengan gigih melawan penjajah Belanda dengan segala pengaruhnya dalam bidang polotik, sosial dan lebih-lebih agama. Masa perjuangan Kiai Mbah Mudzakir sekitar 1900 hingga 1950-an.
                Makam Kiai Mudzakir termasuk unik, berbeda dengan makam-makam para wali yang lain. Makam pejuang dan pnyebar agama Islam ini terletak di tengah laut, yang tidak pernah tenggelam sekalipun air pasang. Tempatnya terletak di Dukuh Tambak Sari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

                Semasa mudanya, pria yang lahir di Dusun Jago Desa Wringinjajar, Kecamatan Mranggen tahun 1869 itu banyak berguru kepada ulama dari berbagai daerah. Setelah merasa cukup, sekitar tahun 1900, ia menetap di Tambaksari, Bedono serta menikahi Latifah dan Asmanah. Beberapa waktu kemudian, ia menikah lagi dengan Murni dan Imronah. Dari empat istrinya Mbah Mudzakir dikaruniai 18 anak.

                Di tempat itu, ia mulai melakukan Syiar Islam. Sebuah masjid pun didirikan. Cara penyampaian materi keagamaan yang mudah dicerna membuat banyak santri mengaji kepadanya. Mereka kebanyakan takmir mushala serta masjid di Demak dan daerah sekitarnya. Karena itulah, ia sering disebut sebagai pencetak kader kiai. Bahkan, semua keturunannya menjadi pemangku masjid dan mushala.

                Kiai yang sehari-hari menjadi petani tambak itu juga menguasi ilmu kanuragan. Ia kerap dimintai orang untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kendati demikian, ia tak mengharapkan imbalan dari pertolongannya itu. Tak dipungkiri, keahlian dan keikhlasannya membuat nama Mbah Mudzakir kian dikenal orang. Dan, hal itu amat mendukung upaya dalam melakukan syiar Islam. Pada 1950, Mbah Mudzakir meninggal dunia dalam usia 81 tahun.

                Berdasarkan cerita dari para sesepuh dan warga sekitar, Mbah Mudzakir itu murid dari Mbah Sholeh Darat yang mempunyai ilmu lebih. Ketika hidup, ia ditakuti Belanda karena sering lolos ketika ditangkap dan kerap menimbulkan korban pihak Belanda.

                Rupanya, "kesaktian" Mbah Mudzakir tidak hanya terjadi pada saat ia masih hidup, bahkan meninggal, makamnya tetap tidak tenggelam di tengah laut. Rumah penduduk sekitar boleh tenggelam di hantam rob, tetapi makam Mbah Mudzakir tetap berdiri kokoh dalam area seluas 7x7 meter persegi.

                Pengaruh yang disebarkan oleh Mbah Mudzakir sangatlah besar dan mengendap di hati umatnya. Bahkan, hingga akhir hayatnya pun jasa-jasanya selalu diingat dan dikenang warga setempat. Hal ini terlihat dari pusaranya yang tak pernah sepi oleh peziarah setiap harinya.

                Sekalipun makam Mbah Mudzakir ini berada di tengah laut, peziarah tak pernah berhenti berbondong-bondong menyusuri jembatan kayu dan bambu yang disusun warga sebagai akses menuju pusaran sang wali. Terjangan angin laut yang kencang atau deburan ombak yang terkadang berubah menjadi rob tak menyurutkan niat mereka untuk mengunjungi tempat peristirahatan Mbah Mudzakir ini.

                Makam Mbah Mudzakir memang berada di tengah laut. Hal ini terjadi karena pada lima belas tahun silam, daerah pesisir Sayung terkena abrasi besar yang mengakibatkan Dusun Tambaksari hampir hilang. Begitu pun juga dengan makam sang Mbah Mudzakir.

                Debur ombak yang mengikis daratan makam Mbah Mudzakir ini bisa saja menenggelamkan makam Mbah Mudzakir, tetapi kenyataan kenyataannya tidak. Allah Swt. Rupanya berkehendak lain terhadap salah satu hamba-Nya itu. Makam tersebut tetap tidak tenggelam, padahal beribu-ribu kali air pasang terjadi di wilayah ini.

                Banyak warga masyarakat yang masih setia merawat makam Mbah Mudzakir ini. Mereka merasa tidak tega meninggalkan makam di tengah laut dan tenggelam. Mereka tetap berusaha menjaga agar makam tersebut tidak tenggelam. Dan, dengan upaya seadanya, makam Mbah Mudzakir masih tetap utuh hingga kini; terapung seperti pulau kecil di tengah lautan.

                Untuk mencapainya, masyarakat dan juga pengunjung bisa melalui dua jalur; jalur darat titian kayu sepanjang 1.359 meter dari Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kec. Sayung, Demak. Bila pasang datang dan para peziarah khawatir akan keamanan jalan tersebut, maka peziarah bisa menggunakan jalur kedua, yakni melalui perahu.

                Itulah keunikan makam ini. Hingga kini pun, keunikan itu tetap ada terbukti; makam Mbah Mudzakir terus didapati peziarah baik siang maupun malam, dari warga sekitar maupun warga luar kota Demak, dari rakyat biasa hingga pejabat maupun santri.

                Bahkan, saat ini sudah direncanakan bahwa makam Mbah Mudzakir yang unik ini akan dijadikan destinasi wisata religi oleh pemerintah setempat. Selain terdapat makam Mbah Muzakir, Desa Bedono, Kecamatan Sayung ini juga terkenal dengan hutan mangrovenya yang hijau.

                Untuk mencapai lokasi makam tidaklah sulit. Lokasi pertama yang kita tuju adalah Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak Jawa Tengah.

                Dari sini, pengujung langsung menuju Dukuh Tambaksari yang memang berada di pinggir laut. Saat ini, akses menuju makam sudah lumayan mudah karena pemerintah setempat sudah membangun jalan setapak sepanjang 1.359 meter dengan lebar 2 meter dan setinggi dua meter di atas air. Tetapi, apabila pengunjung merasa kelelahan karena harus berjalan 1 kilometer lebih keatas laut, pengunjung bisa menggunakan jasa perahu milik penduduk setempat.


Selasa, 11 November 2014

NASEHAT UNTUK PARA JEMAAH HAJI dan UMRAH


Ada beberapa nasihat penting dari para jemaah haji. Para sufi itu antara lain Junaik Al-Baghdadi, Syekh Abdul Qadir Jailani, Al-Hujwiri, Al-Ghazali, hingga Al-Habib Abdullah bin Alawi Alhadad.

Berikut nasihat Imam Ghazali dan Habib Muhammad Alawi Alhadad. Menurut Imam Ghazali dalam kitab Asrar al-Hajj, ibadah haji adalah rukun Islam yang sangat penting, karena merupakan ibadah yang cukup dilaksanakan satu kali sepanjang hidup, dan sebagai penutup segala urusan, serta penyempurna ke-Islam-an seseorang.

Dalam bab terakhir yang menguraikan hikmah haji, Ghazali menekankan tiga hal yang harus diperhatikan para jamaah haji. Pertama, berbagai aktivitas batiniah dan ketulusan haji; Kedua, cara mengambil hikmah dari berbagai peninggalan mulia di Tanah Suci; dan Ketiga; mengenang serta merenungkan makna dan rahasia perjalanan haji.



Menurut Imam Ghazali, ibadah haji tidak hanya menekankan ibadah lahiriah, tapi juga bisa dimaknai sebagai perjalanan batin yang luar biasa. Ghazali menulis “Pertama-tama yang harus dilakukan dalam berhaji ialah pemahaman, yakni berusaha memahami benar-benar posisi ibadah haji dalam agama. Kemudian, secara berurutan : merindukannya, bertekad mengerjakan, dan memutuskan segala penghalang.

Setelah itu membeli pakaian untuk ihram, menyiapkan bekal makanan (dan keperluan lainnya) dan menyewa kendaraan. Pada hakikatnya setiap amalan dalam semua tahapan haji mengandung peringatan dan pelajaran bagi mereka yang benar-benar ikhlas menuju kepada kebenaran, serta pengenalan dan isyarat bagi mereka yang tanggap dan cerdas.”

Salah satu hikmah yang diungkapkan oleh Ghazali ialah, haji merupakan ibadah yang paling efektif sebagai upaya untuk menyucikan diri (tadzkiyah al-nafs). Selain itu juga harus mengalihkan perhatian dari apa yang disukai (sebagai tabiat atau kebiasaan kepada apa yang dituntut oleh penghambaan diri sepenuhnya kepada Allah SWT).

Bagi Imam Ghazali, mengunjungi Baitullah dimaksimalkan sebagai menghindari sebuah dewan majelis di sebuah istana. Siapa yang menjunjung Baitullah, ia menuju kepada Allah SWT dan menjadi tamu-Nya. Dengan mengunjungi Baitullah dan memandang kepada-Nya, mata manusia akan mampu mencapai kelayakan untuk kelak ‘berjumpa’ dengan Allah SWT. Hal ini akan berdampak pada rasa rindu kepada saran-saran yang dapat mengantarkannya kepada Allah SWT.
       
Imam Ghazali juga menegaskan, niat berhaji bisa di maknai sebagai “hijrah” meninggalkan segala syahwat hawa nafsu dan kenikmatan duniawi untuk berangkat mengunjungi Baitullah. Maka hendaklah jemaah haji merasakan dalam hati keagungan Baitullah, terlebih-lebih keagungan Sang Pemilik Baitullah.


IBADAH HAJI WARGA CHINA PEDALAMAN



        Pada suatu hari yang cerah, Lin Xinwei duduk di lantai bersama sekitar 200-an orang di sebuah balai ibukota China, Beijing. Perempuan berusia 77 tahun tersebut dengan penuh konsentrasi mendengarkan ceramah dari seorang pria berdiri di mimbar. Lin, yang datang jauh-jauh dari kawasan China Pedalaman, tampak tenang dan siap mengarungi perjalanan jauh.

        Dan akhirnya dua hari kemudian, Lim Xinwei sudah duduk bersama rombongan calon haji di dalam pesawat yang akan terbang selama 12 jam menuju Arab Saudi. Perjalanan yang sudah cukup lama dinanti-nantikan oleh Lin Xinwei itu pun akhirnya terwujud, yaitu menjalankan ibadah haji.

        Sebagaimana semua jemaah calon haji di China, Lin juga harus menjalani berbagai pelatihan dan pembekalan, termasuk mendengarkan ceramah dari pria yang ada di mimbar tadi. Isi dari ceramahnya adalah tentang kebijakan keagamaan dan kebijakan luar negeri Pemerintah China.

        Putra ketiga Lin Xinwei dengan setia menunggu di luar gedung sambil sesekali memperhatikan ibunya dengan perasaan cemas. “Ibu saya sudah tua, sudah semakin lemah, dan gampang lelah. Saya berharap semoga dia dapat menjalankan ibadah selama 38 hari dengan selamat,” kata Xin Weiwei, putra Lin yang berusia 51 tahun.

Setiap muslim wajib menjalankan ibadah haji di Makkah paling tidak sekali dalam seumur hidup. Ziarah tersebut sudah lama direncanakan Lin Xinwei selama bertahun-tahun.

        Namun, yang menjadi penghalang utama terhadap niat Lin Xinwei tersebut adalah biaya. Maka, setelah seluruh keluarga besar mengadakan rapat bersama, termasuk suami Lin Xinwei beserta tiga putra dan seorang putrinya, mereka pun memutuskan untuk bahu-membahu mengumpulkan uang sebesar 30.000 yuan (sekitar Rp 34,8 juta) untuk keperluan biaya naik haji.
        Penyelenggara ibadah haji di dekat rumah Lin Xinwei yang dikelola oleh sebuah asosiasi Islam setempat menerima 24.170 yuan (sekitar Rp 28 juta) untuk mengatur tiket perjalanan dengan pesawat pulang pergi beserta pembuatan paspor, pengurusan visa, dan biaya-biaya lainnya. Sisa dari uang tersebut digunakan Lin untuk keperluan lain, seperti membeli makanan di Makkah dan membeli tiket kereta dari China Pedalaman menuju ke Beijing.

        “Pendapatan orang tua saya hanya berasal dari uang pensiun ayah yang hanya sebesar 800 yuan (sekitar Rp 928.000)per bulan. Maka biaya ibadah haji ini mengeruk hampir semua tabungan keluarga besar kami,” kata Xin Weiwei. Sebenarnya tahun lalu  Lin sudah siap dan mendaftar diri untuk ibadah haji. Namun, pendaftaran tersebut ditolak oleh biro jasa penyelenggara ibadah haji setempat karena sudah melampaui kuota.

        Zhaxui, wakil ketua Asosiasi Islam kawasan China pedalaman, mengungkapkan bahwa pemerintah Arab Saudi setiap tahun menerapkan kuota untuk berapa banyak calon jemaah haji asal China yang diperbolehkan menjalankan ibadah haji.

        Tahun ini, China Pedalaman mendapatkan kuota 240 umat, atau naik 15% dari jumlah tahun lalu. Pada November lalu, Lin Xinwei senang bukan main karena permohonannya untuk menjalankan ibadah haji akhirnya disetujui dan langsung melakukan persiapan. Di antaranya, ia menyiapkan lima kilogram (kg) beras, lima kg tepung, empat kg mi kering, lima kg makanan olahan serta sejumlah sayuran kering dan daging domba.

        Itu semua adalah untuk bekal Lin Xinwei selama berada di Arab Saudi, hal ini dilakukannya demi menghemat uang. Lin memang sudah berniat untuk memasak makanan sendiri di dalam penginapan yang sudah dipesan oleh Asosiasi Islam China di Makkah.

        Bila Lin Xinwei ingin berhemat selama melaksanakan ibadah haji karena modal pas-pasan, tidak demikian halnya dengan pasangan Xin Zhanxin (77) dan Wang Xanxan (75). Pasangan suami istri tersebut sudah menyiapkan US$ 2.500 (Rp. 20.165.000,-) hanya untuk membeli makanan saja selama nanti di Arab Saudi.

        “Saya memiliki cukup uang dari usaha bisnis real estate. Maka saya dan istri akan pergi. Kelima anak kami semuanya sudah berkumpul di sini untuk melepas kepergian kami,” kata Xin, yang karena sudah tua, dan sudah setengah tuli sehingga terpaksa harus bicara dengan keras.
        Menurut pengakuannya, ia sudah banyak membaca buku-buku mengenai ibadah haji sehingga menjadi tahu bahwa ziarah tersebut pasti akan menimbulkan tantangan berat bagi para umat berusia lanjut seperti dirinya dan istrinya. “Cuacanya panas dan akan ada banyak orang. Namun, kami sudah siap dengan tantangan tersebut,” kata Xin sambil tersenyum.

        Zhaxui dari Asosiasi Islam kawasan China Pedalaman mengungkapkan bahwa kondisi fisik dan ekonomi merupakan faktor yang menentukan bagi mereka yang ingin menjalankan ibadah haji selain hati yang bersih. Namun, banyak muslim di China, terutama mereka yang tinggal di pedesaan, rata-rata belum memiliki cukup uang sebagai biaya melaksanakan ibadah haji hingga akhirnya mereka semakin bertambah tua. Ironisnya, justru di saat mereka sudah punya dana yang mencukupi untuk biaya perjalanan haji, kondisi fisik mereka sudah mulai melemah.

Senin, 10 November 2014

KAROMAH IMAM NAWAWI AL-BANTUNI (JASAD MASIH UTUH)

Nawawi al-Batani atau Imam Nawawi asal Banten adalah tokoh kelahiran Indonesia yang lahir di Jawa dan dikuburkan di Makkah. Namanya harum hingga kini, tidak hanya di Indonesia dan kalangan pesantren, tetapi juga di Makkah. Salah satu alasan yang membuat nama Syekh Nawawi terus hidup hingga saat ini adalah karena produktifitasnya dalam mengarang puluhan kitab agama yang mencakup bidang figh, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadist. Jumlah kitab yang telah ia karang mencapai 115 kitab. Sejumlah kitab karangan Syekh Nawawi di antaranya adalah, Sullam al-Munajah (syarah Safinah al-shalah) dan Nashaih al-'Ibad (syahrah Al-Manbahatu 'ala al-Isti'dad li Yaum al-Mi'ad).

Tidak hanya itu, Tafsir al-Munir, Kasyf al-Maruthiyyah (syarah Matan al-Jurumiyyah), Tanqih al-Qaul al-Hatsits (syarah Lubab al-Hadits), Madarij al-Shu'ud (syarah Maulid al-Barazanji), Fath al-Majid (syarah Ad-Durr al-Farid), Kasyifah al-saja (syarah Safinah al-Naja) dan 'Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain juga merupakan karangan dari Syekh Nawawi.

Lahir dengan nama Abu Abdul Mu'ti Muhammad nawawi bin Umar bin Arabi, ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, kabupaten Serang, Provinsi Banten (sekarang di kampung Pesisir, desa Pedaleman Kecamatan Tanara depan Masjid Jami'Syekh Nawawi Bantani) pada tahun 1230 H atau 1813 M ini bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin, Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon.

Ia adalah keturunan ke-11 dari Sultan Banten. Nasab beliau jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Melalui keturunan Maulana Hasanuddin, yakni Pangeran Suniararas, yang makamnya hanya berjarak 500 meter dari bekas kediaman beliau di Tanara; nasab ahlul bait sampai ke Syaikh Nawawi. Ayah beliau seorang ulama Banten, Umar bin Arabi, ibunya bernama Zubaedah.

Semenjak kecil, ia memang terkenal cerdas. Otaknya dengan mudah menyerap pelajaran yang telah diberikan ayahnya sejak umur 5 tahun. Pertanyaan-pertanyaan kritisnya sering membuat ayahnya bingung. Melihat potensi yang begitu besar pada putranya, pada usia 8 tahun, sang ayah mengirimkannya ke berbagai pesantren di Jawa. Ia mula-mula mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, kemudian berguru kepada Kiai Sahal, Banten. Setelah itu, ia juga mengaji kepada Kiai Yusuf, Purwakarta.

Di usianya yang belum lagi mencapai 15 tahun, Syekh Nawawi telah mengajar banyak orang. Sampai kemudian, karena kaaramahnya yang telah mengkilap sebelia itu, ia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak.

Pada usia 15 tahun, ia menunaikan haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Makkah, seperti Syekh Khatib al-Sambasi, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Abdul Hamid Daghestani, Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi,Syekh Ahmad Dimyati,Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Muhammad Khatib Hambali, dan Syekh Junaid al-Betawi.

Akan tetapi, dari sekian banyak gurunya, yang paling berpengaruh adalah Syekh Ahmad Nahrawi, Syekh Junaid al-Betawi, dan Syekh Sayyid Ahmad Dimyati, ulama terkemuka di Makkah. Melalui ketiga Syekh inilah karakter Syekh Nawawi terbentuk.

Selain itu, ada dua ulama lain yang berperan besar mengubah alam pikirannya, yaitu Syekh Muhammad Khatib dan Syekh Zaini Dahlan. Banyak murid-muridnya yang di kemudian hari menjadi ulama, misalnya KH. Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdatul Ulama), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH. Khalil Bangkalan, Kh. Asnawi Kudus, Kh. Tb. Bakrie Purwakarta, KH. Arsyad Thawil, dan lain-lainnya.

Konon, Kh. Hasyim Asy'ari saat mengajar santri-santrinya di pesantren Tebu Ireng sering mengangis jika membaca kitab figh Fath al-Qarib yang dikarang oleh Syekh Nawawi. Kenangan terhadap gurunya itu amat mendalam di hati KH. Hasyim Asy'ari, sehingga haru pun tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan pada santri-santrinya.

Tiga tahun bermukim, ia pulang dari Makkah menuju Banten. Sampai di tanah air, ia menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan dari pemerintah Hindia Belanda. Ia melihat semua itu lantaran kebodohan yang masih menyelimuti umat. Tak ayal, gelora jihad pun berkobar. Ia berkeliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Tentu saja, Pemerintah Belanda membatasi gerak-geriknya. Ia dilarang berkutbah di masjid-masjid. Bahkan, ia pernah dituduh sebgai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu memang sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan belanda (1825-1830).

Sebagai intelektual yang  memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, apa boleh Syekh Nawawi terpakasa menyingkir ke Makkah, tepat ketika perlawanan Pangeran Diponegoro padam pada tahun 1830 M.  Ulama besar ini di masa mudanya juga menularkan semangat nasionalime dan patrotisme di kalangan rakyat Indonesia. Begitulah pengakuan Snouck Hourgronje.

Begitu sampai di Makkah, ia segera kembali memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya. Ia tekun belajar selama 30 tahun, sejak tahun 1830 hingga 1860 M. Ketika itu, ia memang berketetapan hati untuk mukim di tanah suci, satu dan lain hal untuk menghindari tekanan kaum penjajah Belanda.

Namanya mulai masyhur ketika menetap di Syi'ib'Ali, Makkah. Ia mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula, muridnya Cuma puluhan, tapi makin lama makin banyak jumlahnya. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Maka, jadilah Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi sebagai ulama yang dikenal piawai dan ilmu agama, terutama tentang tauhid, figh, tafsir, dan tasawuf.

Syekh Nawawi masih tetap mengobarkan nasionalisme dan patriotisme di kalangan para muridnya yang bisa berkumpul di perkampungan Jawa di Makkah. Di sanalah ia menyampaikan perlawanannya lewat pemikiran-pemikirannya. Kegiatan ini tentu saja membuat pemerintah Hindia Belanda berang. Tak ayal, Belanda pun mengutus Snouck Hourgronje pergi ke Makkah untuk menemui Syekh Nawawi.

Ketika Snouck yang kala itu menyamar sebagai orang Arab dengan nama Abdul Ghafur bertanya, "Mengapa Anda tidak mengajar di Masjidil Haram tapi di perkampungan Jawa?"

Dengan lembut Syekh Nawawi menjawab, "Pakaianku yang jelek dan kepribadianku tidak cocok dan tidak pantas dengan keilmuan seorang professor berbangsa Arab."

Lalu, kata Snouck lagi, "Bukankah banyak orang yang tidak sepakar Anda, akan tetapi juga mengajar di sana?"

Syekh Nawawi menjawab, "Kalau mereka diizinkan mengajar disana, pastilah mereka cukup berjasa."

Dari beberapa pertemuan dengan Syekh Nawawi, orientalis Belanda itu mengambil beberapa kesimpulan. Menurutnya,Syekh Nawawi adalah ulama yang ilmunya dalam, rendah hati, tidak congkak, dan sombong sekalipun cerdas dan berilmu tinggi. Ia bersedia berkorban demi kepentingan agama dan masyarakat.

Berkat kepakarannya, ia mendapat bermacam-macam gelar. Di antarnya adalah Doktor Ketuhanan, yang diberikan oleh Snouck Hourgronje. Kalangan intelektual masa itu juga memberinya gelar sebagai Al-Imam wa al-Fahm al-Mudaqqiq (Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam). Syekh Nawawi bahkan juga mendapatkan gelar yang luar biasa sebagai Sayyid al-'Ulama al-Hijaz (Tokoh Ulama Hijaz). Yang dimaksud dengan Hijaz ialah Jazirah Arab yang sekarang ini disebut Saudi Arabia. Sementara, para ulama Indonesia menggelarinya sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia.

Imam Nawawi al-Bantani memiliki sejumlah karamah khas wali zaman dulu. Karamah ini beredar luas di kalangan khususnya dalam lingkungan masyarakat pesantren. Di ceritakan pada suatu waktu, ia pernah mengarang kitab dengan menggunakan telunjuknya sebagai lampu. Saat itu, ia sedang dalam sebuah perjalanan.

Karena tidak ada cahaya dan syuqduf atau rumah-rumahan di punggung unta, yang ia diami, sementara inspirasi tengah kencang mengisi kepalanya, maka Syekh Nawawi kemudian berdoa memohon kepada Allah Swt. Agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu menerangi jari kanannya untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Maraqi al-'Ubudiyyah syarah Mantan Bidayah al-Hidayah itu harus dibayar beliau dengan cacat pada jari telunjuk kirinya. Cahaya yang diberikan Allah pada jari telunjuk kiri beliau membawa bekas yang tidak hilang.

Karamah Imam Nawawi yang lain juga diperlihatkannya di saat mengunjungi salah satu masjid di Jakarta, yakni Masjid Pekojan. Masjid yang dibangun oleh salah seorang keturunan cucu Rasulullah Saw., Sayyid Ustman bin' Agil bin Yahya al-Alawi, ulama dan mufti Betawi, itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal, yang menentukan kiblat bagi masjid itu adalah Sayyid Ustman sendiri.

Tak ayal, saat seorang anak remaja yang tak dikenalnya menyalahkan penentuan kiblat, kagetlah Sayyid Utsman. Diskusi pun terjadi dengan seru antara mereka berdua. Sayyid Utsman tetap berpendirian bahwa kiblat Masjid Pekojan sudah benar. Sementara Imam Nawawi remaja berpendapat arah kiblat mesti dibetulkan. Saat kesepakatan tak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syekh Nawawi remaja menarik lengan baju lengan Sayyid Utsman. Dirapatkan tubuhnya agar bisa saling berdekat.

"Lihatlah Sayyid! Itulah Ka'bah tempat kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka'bah itu terlihat amat jelas? Sementara, kiblat masjid ini agak kekiri. Maka perlulah kiblat digeser ke kanan agar tepat menghadap ke Ka'bah," ujar Syekh Nawawi remaja.

Sayyid Utsman termangu. Ka'bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syekh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsman merasa takjub dan menyadari bahwa remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyah. Dengan karamah itu, di mana pun ia berada, Ka'bah tetap terlihat. Dengan penuh hormat, Sayyid Utsman langsung memeluk tubuh kecil Imam Nawawi. Sampai saat ini, jika kita mengunjungi Masjid Pekojan akan terlihat arah kiblat digeser, tidak sesuai aslinya.

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harug digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang  belulang mayat lainnya. Selanjutnya, semua tulang itu dikubur ditempat lain di luar kota. Lubang kuburan dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakaan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapa pun orangnya, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, semua terkena kebijakan tersebut.

Inilah yang juga menimpa makam Syekh Nawawi. Setelah kuburannya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburannya. Tetapi, yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apa pun, tidak lecet, atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan, kain putih kafan penutup jasadnya tidak sobek dan tidak lapuk sedikit pun.

Terang saja, kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasanya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad Imam Nawawi lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang, makam Imam Nawawi tetap berada di Ma'la Makkah.

Demikianlah karamah Imam Nawawi al-Bantani al-Jawi. Tanah organisme yang hidup di dalamnya sedikit pun tidak merusak jasadnya. Kasih sayang Allah Swt. Berlimpah kepadanya.

Lebih dari itu, karamah Imam Nawawi yang paling tinggi akan kita rasakan saat kita membuka lembar demi lembar Tafsir al-Munir yang ia karang, serta kitab-kitab karangannya yang lain yang hingga hari ini diajarkan di lingkungan pesantren. Pengabdian, dedikasi, ketulusan, dan keinginan kuat Imam Nawawi untuk mencerdaskan segenap umat Islam di penjuru dunia mendapat ganjaran yang pantas dari Yang Maha Kuasa.

Saat ini, ia sudah tidak ada. Akan tetapi, kita masih bisa menjumpai tokoh yang sangat rendah hati ini melalui karya-karyanya. Makamnya saat ini berada di Makkah. Namun demikian, kita bangga pernah memiliki seorang tokoh ulama besar Indonesia yang tidak hanya berharga bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi umat Islam dunia. Begitulah orang yang baik dan hidupnya mendapat ridha Allah Swt. Semasa hidup berarti, setelah meninggal juga masih berarti.

Masa selama 69 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru umat Islam telah memberikan pandangan-pandangan cemerlang atas berbagai masalah umat Islam. Imam Nawawi wafat di Makkah pada tanggal 25 Syawwal 1314 H / 1897 M. Tetapi, ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H / 1899 M. Makamnya terletak di pekuburan Ma'la di Makkah, bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, Asma'binti Abu Bakar ash-Shiddiq.

Bagi Anda yang ingin melakukan ziarah ke makam Imam Nawawi al-Bantani, bisa langsung menuju Ma'la di Makkah. Terutama bagi Anda yang kebetulan naik haji bisa menyempatkan ke makam ini. Pemakaman Ma'la atau sering juga disebut dengan Jannatul Ma'la adalah tempat terkenal di Makkah. Dulunya kompleks pemakaman ini digunakan untuk mengubur para jemaah haji yang meninggal di Makkah, termasuk jamaah Indonesia. Pekuburan Ma'la terletak selitar 1 km di sebelah timur Masjid haram. Untuk sampai ke sana, dapat ditempuh sekitar 15 menit dengan berjalan kaki.

Minggu, 09 November 2014

MAKAM MBAH PRIOK MEMANCARKAN CAHAYA SAMPAI ANGKASA

Bagi rakyat Indonesia pada umumnya, Mbah Priok bukanlah nama yang sangat dikenal. Tetapi, berbeda bagi warga Jakarta, Mbah Priok merupakan tokoh legenda yang namanya tetap harum hingga kini. Mungkin orang lebih mengenal Priok sebagai pelabuhan atau sebagai kawasan di daerah Jakarta Utara, daripada Mbah Priok sendiri sebagai seorang tokoh manusia yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di masa penjajahan Belanda.

Sosok Mbah Priok adalah sosok yang melegenda, setidaknya bagi masyarakat Jakarta. Keteguhan dan tekadnya yang besar dalam menyebarkan agama Islam di masa lalu menjadi alasan kuat bagi masyarakat setempat menjunjung tinggi namanya, termasuk ketika tokoh kelahiran Sumatera ini telah tiada.

Bagi masyarakat Jakarta, Khususnya masyarakat Betawi, Mbah Priok adalah tokoh sejarah yang layak dijadikan panutan. Sekalipun bukan lahir di Betawi, tetapi mereka menganggapnya sebagai leluhur sendiri. Saat ini, Mbah Priok sudah tiada. Meski demikian, disekitar makamnya, tumbuh komunitas masjid taklim yang secara rutin mengadakan pengajian agama Islam dan ilmu-ilmu agama. Dalam hal ini, makam Mbah Priok menjadi berkah dan pelecut semangat tersendiri bagi para warga sekitar agar semakin giat belajar agama.

Bagi sebgai umat Islam di Jakarta, utamanya yang aktif dalam sebuah pengajian atau majelis taklim, bisa jadi telah mengetahui asal-usul makam tersebut. Karena, sejarah makam tersebut erat kaitannya dengan nama tokoh ulama besar yang juga penyebar agama Islam di DKI Jakarta dan Pulau Jawa pada abad ke-18.

Mbah Priok adalah seorang ulama. Masyarakat menyebutnya Habib. Ia dilahirkan di Ulu, Palembang pada tahun 1727 dengan nama Imam al'arif Billah Sayyidina al-Habib  bin Muhammad al-haddad Ra. Menurut catatan, pada tahun 1756, dalam usia 29 tahun, ia pergi ke Pulau Jawa. Imam al'-Arif Billah tak sendirian. Ia pergi bersama Al-Arif Billah al Habib Ali al-Haddad dan tiga orang lainnya menggunakan perahu. Mereka berlayar menuju Batavia selama dua bulan. Aneka rintangan pun datang menghadang.

Legenda yang terbesar dari mulut ke mulut, konon salah satu rintangan yang menghadang di jalan adalah armada Belanda dengan persenjataan lengkap. Tanpa peringatan, perahu Habib dihujani meriam. Namun, tak satu pun meriam itu mengenai kapalnya.

Lolos dari kejaran perahu Belanda, kapal Habib digulung ombak  besar. Semua perlengkapan di dalam kapal hanyut dibawa ombak. Yang  tersisa hanya alat memasak nasi dan beberapa liter beras yang berserakan. Selanjutnya, ombak lebih besar datang menghantam lebih keras dan membuat kapal terbalik. Dengan kondisi yang lemah dan kepayahan, kedua ulama itu tersesat hingga ke semenanjung yang saat itu belum bernama.

Suatu saat di tengah laut, rombongan ini kehabisan kayu bakar, bahkan dayung pun habis dibakar. Saat itu, Mbah Priok memasukkan periuk berisi beras je Jubahnya. Dengan doa, beras dalam periuk berubah menjadi nasi.

Ketika ditemukan warga, Habib Hasan bin Muhammad al-Huddad sudah tewas, sedangkan Muhammad al-Haddad masih hidup. Di samping keduanya, terdapat periuk dan sebuah dayung. Warga memakamkan jenasah Habib Hasan tak jauh dari temannya ditemukan. Sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayung yang menyertainya, sedangkan priuk diletakkan di sisi makam. Dayung yang sudah pendek ditancapkan sebagai nisan. Di bagian kaki ditancapkan kayu sebesar lengan anak kecil.

Konon, dayung yang dijadikan nisan tumbuh menjadi pohon tanjung. Sementara periuk yang semula diletakkan di sisi makam terseret arus ombak hingga ke tengah laut. Menurut cerita, selama tiga hingga empat tahun setelah pemakaman itu, warga beberapa kali melihat periuk yang terbawa ombak kembali menghampiri makam Habib.

Diyakini, kisah priuk inilah yang melatarbelakangi sebutan Priok untuk kawasan di utara Jakarta ini. Sebutan "Mbah" disematkan kepada Habib Hassan kiranya merupakan penghormatan terhadapnya. Kisah periuk nasi dan dayung yang menjadi pohon tanjung lantas dipercaya sebagai asal-muasal Tanjung Priok bagi kawasan tersebut. Setelah peristiwa ini, sejumlah keluarga Habib Hassan ikut pindah ke Batavia menebarkan Islam dan mengurus makamnya.

Sementara itu, Habib al-Haddad, rekan seperjalanan Habib Hassan, yang selamat sempat menetap di daerah tersebut. Ia menyebarkan agama Islam hingga ke Pulau Sumbawa. Ia menetap di Sumbawa dan wafat di sana.

Kisah perjuangan syiar Habib Hassan terus disampaikan dari mulut ke mulut. Sebab, perjuangan hidupnya dianggap suci. Karenanya, penghormatan terhadap makamnya berlangsung hingga kini. Selama sekian abad, makam itu dijadikan tempat berziarah.

Salah satu karamah Habib Hassan adalah suatu saat pernah orang mengancam Habib Hassan dengan singa, beliau lalu membalasnya dengan mengirim katak. Katak ini dengan cerdik lalu menaiki kepala singa dan mengencingi matanya. Singa kelabakan dan akhirnya lari terbirit-birit.

Memang banyak versi cerita yang berkembang, ada yang mengatakan bahwa kisah Habib Hassan dan prioknya bukanlah asal muasal kawasan penyebut Tanjung Priok berasal dari abad 1 Masehi. Ketika itu, masyarakat pribumi yang masih primitif dan belum mengenal perahu layar yang besar menyebut perahu China dan Arab dengan nama Sampan Priok, yang artinya Periuk raksasa.

Perahu-perahu itu bersandar di pantai yang luas, sehingga disebut Tanjung Priok, yang artinya Tanah Tempat Periuk Besar. Pada abad-abad selanjutnya, secara kebetulan pula perdagangan meningkat, masyarakat setempat yang banyak pengrajin periuk menimbun barang dagangan mereka di atas rakit-rakit bambu di pantai. Tetapi, terlepas dari penamaan Tanjung Priok, Mbah Priok lebih memikat warga daripada siapa sebenarnya yang memberi nama kawasan pelabuhan tersebut.

Ada juga versi lain tentang Mbah Priok memang benar-benar penyebar Islam, tetapi bukan penyebar Islam seperti Wali Sanga. Mbah Priok awalnya berniat untuk melakukan syiar agama di Pulau Jawa. Namun, demi mendengar kisah Faletehan dan para wali, sehingga merasa terpanggil untuk datang ke Jawa. Pada usia yang sangat muda ia berangkat ke Nusa Kelapa (Jakarta). Tetapi, di tengah perjalanan kapalnya karam dan ia pun selamat karena tertolong periuk yang dipakainya buat menopang sampai ke pantai. Setidaknya di Pantai, ia ditolong masyarakat.

Ia pun mengakui bahwa ia keturunana Sultan Palembang yang ingin melakukan syiar di Jawa. Mendengar hal itu, masyarakat setempat menjadi senang. Kebetulan mereka membutuhkan seorang habib untuk mendampingi para habib priok. Ia sendiri tidak pernah melakukan syiar agama ke mana-mana seperti yang dilakukan Wali Sanga. Ia hanya menjadi penceramah agama di daerah Tanjung Priok sampai meninggal setahun setelah selamat dari peristiwa tenggelam itu.

Terlepas dari kontroversi tersebut, bisa disimpulkan jika Mbah Priok memang terbukti sebagai pribadi yang berdedikasi terhadap ilmu agama. Tujuan mulianya datang ke Tanah Jawa dari Sumatera menggambarkan kecintaan dan keinginan menyebarkan Islam amatlah tinggi. Namanya dikenang, makamnya dirawat dan dipertahankan.

Begitu cintanya masyarakat terhadap Mbah Priok. Mereka rela bentrok dengan Satpol PP. Yang mencoba menggusur atau membongkar makan tersebut pada tahun 2010 silam. Peristiwa ini menewaskan beberapa orang dan sempat menghebohkan Jakarta saat itu.

Sebuah kisah keajaiban sering terdengar dari makam Mbah Priok ini. Pada tahun 2000, salah seorang pengurus makam menuturkan bahwa ia dikunjungi oleh beberapa ilmuwan dari luar negeri untuk melihat dari dekat makam Mbah Priok. Para ilmuwan tersebut bercerita bahwa mereka telah melihat sinar yang memancar dari makam hingga keluar angkasa.

Pengurus makam itu menyebutkan, pada 14 Maret 2000 lalu, beberapa orang asing mendatangi ahli waris. Para ilmuwan ini, kepada ahli waris menuturkan, mereka melihat dari satelit terdapat sinar yang memancar dari Indonesia. Mereka menduga sinar tersebut merupakan senjata laser. Kemudian, orang-orang asing itu mendatangi lokasi untuk mencari sinar laser yang menurut mereka itu adalah senjata laser. Ketika dilihatnya berasal dari makam keramat ini.

Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, Mbah Priok sudah dianggap sebagai tokoh masyarakat yang dihormati, baik selama hidupnya yang singkat di Betawi maupun di saat beliau sudah meninggal dan dimakamkan di sana. Letak makam Mbah Priok tidak sulit dijangkau, baik oleh kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Sebab, lokasi makam itu berada di daerah Ibu Kota Jakarta. Tepatnya di Jalan Timur Raya, Kola, Jakarta Utara. Di dekat pintu  masuk Terminal Peti Kemas Koja.

Dari peta terlihat bahwa lokasi makam Mbah Priok terletak di daerah seputaran pelabuhan Peti Kemas, Jakarta Utara. Rute menuju kesana tidak sulit. Penduduk sekitar juga akan langsung mengerti makam ini.

Mbah Priok sudah menjadi salah satu leluhur Jakarta, terutama masyarakat Betawi, yang dari dulu rindu akan sosok seorang yang besar dan jujur, rendah hati, dan bekerja untuk masyarakatnya. Dalam hal ini, ia ikut adil mengajari masyarakat tentang ilmu agama.

Sekalipun banyak kontrovesri tentang keberadaan tokoh yang satu ini, tetapi tidak satu pun yang menyangsikan keberadaannya sebagai salah satu pemuka agama Islam, khususnya di tanah Betawi. Karena itulah, namanya tetap harum sampai saat ini dan makamnya tetap dikunjungi banyak peziarah.

Info PELUANG USAHA SAMPINGAN untuk sahabat muslim


kesempatan bagi anda yang ingin berangkat umroh, dengan cara murah dan mudah, TERBUKTI sudah banyak sahabat lain yang berangkat ibadah umroh secara GRATIS dan mendapatkan BONUS 450 JUTA langsung ditransfer ke rekening.....

ads by google

Artikel Favorit