Kamis, 18 Desember 2014

HABIB HUSIEN BIN ABU BAKAR AL-AYDRUS, JASADNYA HARUM DAN HIDUP

                Husein bin Abu Bakar al-Aydrus dlahirkan di Yaman Selatan, tepatnya di daerah Hadhramaut, tiga abad yang silam. Ia dilahirkan sebagai anak yatim yang dibesarkan oleh seorang ibu yang sehari-harinya hidup dari hasil memintal benang pada perusahaan tenun tradisional. Husien kecil sungguh hidup dalam kesederhanaan.

                Setelah memasuki usia belia, sang ibu menitipkan Habib Husien pada seorang alim sufi. Di sanalah ia menerima tempaan pembelajaran sufi. Di tengah-tengah kehidupan di antara murid-murid yang lain, tampak Habib Husien memiliki perilaku dan sifat-sifat yang lebih dari teman-temannya.

                Kini, Habib Husien telah menginjak usia dewasa. Setiap ahli  thatiqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka menyiarkan Islam ke belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut, Habib Husien tidak kekurangan akal. Ia bergegas menghampiri pafa kalifah dan musafir yang sedang melakukan jual-beli di pasar pada setiap hari Jum'at.

                Setelah dipastikan mendapatkan tumpangan dari salah seorang kalifah yang hendak bertolak ke India, maka Habib Husien segera menghampiri ibunya untuk meminta izin.

                Walau dengan berat hati, ibunya harus melepaskan dan merelakan kepergian putranya. Habib Husien mencoba membesarkan hati ibunya sambil berkata, "Janganlah takut dan  berkecil hati, Bu. Apa pun akan kuhadapi. Senantiasa bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya, Dia bersama kita. "Akhirnya, berangakatlah Habib Husien menuju daratan India.

                Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh, sampailah Habib Husien di sebuah kota bersama Surati atau lebih dikenal Kota Gujarat, yang penduduknya beragama Buddha. Mulailah Habib Husien menyiarkan Islam di kota tersebut dan kota-kota sekitarnya.

                Kedatangan Habib Husien di kota tersebut membawa kebaikan baginya dan masyarakat sekitar. Oleh Habib Husien, kota itu diperkenalkan kepada Islam; sebuah agama yang mengajarkan keimanan dan akidah yang mencerahkan.

                Hingga kini, belum ditemukan sumber yang pasti berapa lama Habib Husien bermukim di India. Tidak lama di Gujarat, ia melanjutkan misi hijrahnya menuju wilayah Asia Tenggara, hingga sampai di pulau jawa dan menetap di kota Batavia, sebuah kota Jakarta tempo dulu.

                Batavia adalah pusat pemerintahan Belanda dan pelabuahannya adalah Sunda Kelapa. Maka, tidak heran kalau pelabuhan itu dikenal sebagai pelabuhan yang teramai dan terbesar di zamannya. Pada tahun 1738, datanglah Habib Husien bersama para pedagang dari Gujarat di pelabuhan Sunda Kelapa.

                Di sinilah tempat persinggahan terakhir dalam menyiarkan Islam. ia mendirikan surau sebagai pusat pengmbangan ajaran Islam. Ia banyak dikunjungi bukan saja dari warga setempat, melainkan juga datang dari berbagai daerah untuk belajar Islam atau banyak juga uang datang untuk didoakan.

                Berbagai Karamah Habibi Husien
                Istiah karamah secara epistemologi bahasa Arab berarti mulia. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (terbitan balai pustaka, Jakarta 1995, hlm 483) menyebutkan karamah dengan keramat, yang artinya suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

                Dalam ajaran Islam, karamah dimaksudkan sebagai khariqun lil adat yang berarti kejadian luar biasa yang berada di luar jangkauan akal manusia kebanyakan dan biasanya terjadi pada seorang wali Allah. Karamah merupakan tanda-tanda kebenaran sikap dan tingkah laku seseorang dan merupakan anugerah Allah karena ketakwaannya.

                Berikut ini terdapat beberapa karamah yang dimiliki oleh Habib Husien bin Abu Bakar al-Aydrus atau yang kita kenal Habib Luar Batang, seorang wali Allah yang lahir di Jazirah Arab dan telah ditakdirkan wafat di Pulau Jawa, tepatnya di Jakarta Utara.

                Di masa belianya, Habib Husien berguru kepada seorang alim sufi. Di hari-hari libur, ia puang untuk menyambangi ibunya.

                Pada suatu malam, ketika ia berada di rumahnya, ibu Habib Husien membuka pintu gudang. ia sangat heran karena makanan yang disediakan masih utuh belum dimakan sedikit pun oleh  Husien. Selanjutnya, ia sangat kaget melihat hasil pintalan benang begitu banyaknya. Si ibu tercengang melihat kejadian ini. Dalam benaknya, terpikir bagaimana mungkin hasil pemintalan benang yang seharusnya dikerjakan dalam beberapa hari, malah hanya dikerjakan kurang dari semalam. Padahal, Habib Husien dijumpai dalam keadaan tidur pulas di sudut gudang.

                Kejadian ini oleh ibunya diceritakan kepada guru thariqah yang membimbing Habib  Husien. Mendengar cerita itu, sang guru bertajbir sambil berucap, "Sungguh, Allah berkehendak pada anakmu, untuk diperolehnya derajat yang besar di sisi-Nya. Hendaklah ibu bersabar hati dan jangan bertindak keras kepadanyna, rahasiakanlah segala sesuatu yang terjadi pada anakmu."

                Kedatangan Habib Husien di kota Gujarat disambut oleh ketua adat setempat. Ia dibawa kepada kepala wilayah serta beberapa penasihat paranormal dan Habib Husien diperkenalkan sebagai titisan dewa yang dapat menyelamatkan negeri itu kdari bencana.

                Habib Husien menyanggupi bahwa dengan petolongan Allah, ia akan mengubah negeri ini menjadi sebuah negeri yang subur, dengan syarat mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong warga di kota itu belajar agama Islam.

                Akhirnya, mereka diperintahkan untuk membangun sumur dan sebuah kolam. Setelah pembangunan keduanya diselesaikan, maka dengan kekuasaan Allah, turun hujan yang sangat lebat membasahi seluruh daratan yang tandus. Sejak itu pula, tanah yang kering berubah menjadi subur. Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh dengan cara mandi di kolam buatan tersebut. Dengan demikian, kota yang dahulunya mati secara berangsur-angsur mulai bergairah, kehidupan masyarakatnya pun menjadi sejahtera.

                Setelah tatanan kehidupan masyarakat Gujarat berubah dari kehidupan yang kekeringan dan hidup miskin menjadi subur serta masyarakatnya hidup sejahtera, maka Habib Husien melanjutkan hijrahnya ke daratan Asia Tenggara untuk tetap menyiarkan Islam. Ia menuju pulau Jawa dan akhirnya menetap di Batavia. Pada masa itu, Indonesia berada dalam jajahan pemerintahan VOC Belanda.

                Pada suatu malam, Habib Husien dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang berlari padanya karena dikejar oleh tentara VOC. Dengan pakaian basah kuyup, ia meminta perlindungan karena akan dikenakan hukuman mati. Ia adalah tawanan dari sebuah kapal Tionghoa.

                Keesokan harinya, datanglah pasukan tentara berkuda VOC ke rumah Habib Husien untuk menangkap tawanan yang dikejarnya. Ia tetap melindungi tawanan tersebut sambil berkata, "Aku akan melindungi tawanan ini dan aku adalah jaminannya."

                Rupanya ucapan tersebut sangat didengar oleh pasukan VOC. Semua menundukkan kepala dan akhirnya pergi. Sedangkan tawanan Tionghoa itu sangat berterimakasih, sehingga akhirnya ia memeluk Islam.

                Dalam waktu singkat, Habib Husien menjadi terkenal dan banyak orang yang datang untuk belajar agama Islam. Rumah Habib Husien banyak dikunjungi para muridnya dan masyarakat luas. Hilir mudiknya warga yang datang membuat pengusa VOC menjadi khawatir akan menganggu keamanan. Akhirnya, Habib Husien beserta beberapa pengikut utamanya ditangakap dan dimasukkan ke penjara Glodok. Bangunan penjara itu juga dikenal dengan sebutan "seksi dua."

                Habib Husien ditempatkan dalam kamar terpisah dan ruangan yang sempit. Sedangkan pengikutnya ditempatkan diruang yang besar bersama tahanan yang lain.

                Polisi penjara dibuat terheran-heran karena kdi tengah malam melihat Habib Husien menjadi imam di ruangan yang besar, memimpin shalat bersama-sama para pengikutnya. Bahkan, masyarakat di luar pun ikut shalat berjamaah di belakang Habib Husien. Anehnya, dalam waktu yang bersamaan, polisi penjara tersebut juga melihat Habib Husien tidur nyenyak di kamar ruang yang sempit itu dalam keadaan tetap terkunci.

                Kejadian tersebut berkembang menjadi kbuah bibir di kalangan pemerintah VOC. Dengan segala pertimbangan, akhirnya pemerintah Belanda meminta maa atas penahanan tersebut. Habib Husien beserta semua pengikutnya dibebaskan dari tahanan.

                Selain itu, pada suatu hari, Habib Husien dengan ditemani oleh seorang mualaf Tionghoa yang telah berubah nama menjadi Abdul Kadir duduk  berteduh di daerah Gambir. Di saat mereka beristirahat, lewatlah seorang Sinyo (anak Belanda) dan mendekat ke Habib Husien. Seketika itu, Habib Husien menghentakkan tangannya ke dada anak Belanda tersebut. Si Sinyo kaget dan berlari ke arah pemabantunya.

                Dengan cepat Habib Husien meminta temannya untuk menghampiri pembantu anak Belanda tersebut, untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada majikannya bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang pembesar di negeri ini. Seiring berjalanannya waktu, anak Belanda itu melanjutkan sekolah tinggi di negeri Belanda. Setelah lulus, ia diangkat menjadi gubernur Batavia.

                Gubernur Batavia yang pada masa kecilnya telah diramal oleh Habib Husien, bahwa kelan aan menjadi orang besar di negeri ini, ternyata memang benar adanya. Rupanya, Gubernur muda itu menerima wasiat dari ayahnya yang baru saja meniggal dunia. Diwasiatkan kalau memang apa yang dikatakan Habib Husien menjadi kenyataan, ia diminta agar membalas budi dan jangan melupakan jasa Habib Husien.

                Akhirnya, gubernur Bataia menghadiahkan beberapa karung uang kepada Habib Husien. Uang itu diterimanya tetapi dibuangnya ke laut. Demikian pula setiap pemberian uang berikutnya, Habib Husien selalu menerimanya, tetapi juga dibuangnya ke laut. Gubernur yang memberi uang menjadi penasaran dan akhirnya bertanya mengapa uang pemeberiannya selalu dibuang ke laut. Dijawab oleh Habib Husien bahwa uang tersebut dikirimkan untuk ibunyaa di Yaman.

                Gubernur itu dibutnya penasaran. Akhirnya diperintahkan penyelaman untuk mencari karung uang yang di buang ke laut. walhasil, tak satu keping uang pun yang ditemukan. Selanjutnya, gurbernur Batavia tetap berupaya untuk membuktikan kebenaran kejadian ganjil tersebut. Ia mengutus seorang ajudan ke negeri Yaman untuk bertemu dan menanyakan kepada Ibu Habib Husien.

                Sekembalinya dari Yaman, ajudan gubernur tersebut melaporkan bahwa benar adanya. Ibu Habib Husien telah menerima sejumlah uang yang dibuang ke laut tersebut pada hari dan tanggal yang sama.

                Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husien. Ia menanyakan apa keinginan Habib Husien. Jawabanya, "Saya tidak mengharapkan apa pun dari Tuan." Akan tetapi, gubernur itu sangat bijak, dihadiahkanlah sebidang tanah di Kampung Baru sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir.

                Dan, itulah yang benar-benar dibutuhkan oleh Habib Husien karena ia memang benar-benar meninggal di Batavia. Orang di Jakarta saat ini mengenal Makam Luar Batang sebagai salah satu makam yang dikeramatkan dan termasuk dalam wisata religius seperti halnya makam Mbah Priok. Lokasinya terletak di Jl. Luar Batang V Np. 1 RT 4/3 Penjaringan, Jakarta Utara.

                Orang yang dikubur di makam itu tidak lain dan tidak bukan adalah Habib Husien. Habib Husien telah dipanggil oleh Allah dalam usia muda, yakni kurang lebih 30-40 tahun. Ia meninggal pada hari kamis tanggal 17 Ramadhan 1169 H. atau bertepatan tanggal 27 Juni 1756 M. Sesuai dengan peraturan pada masa itu bahwa setiap orang asing harus dikuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang.

                Sebagaimana layaknya, jenazah Habib Husien diusung dengan keranda. Sesampainya di pekuburan, jenazah Habib Husien ternyata tidak ada dalam keranda tersebut. Anehnya, jenazah Habib Husien kembali berada di tempat tinggal semula. Dengan kata lain, jenazah Habib Husien keluar dari keranda. Pengantar jenazah mencoba kembali mengusung jenazah Habib Husien ke pekuburan yang dimaksud, namaun jenazah Habib Husien tetap saja keluar dan kembali ke tempat tinggal semula.

                Akhirnya, para pengantar jenazah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husien di tempat yang merupakan rumah tinggalnya. Kemudian orang menyebutnya Kampung Baru Luar dan kini dikenal sebagai Kampung Baru Luar.

                Saat ini, makam Habib Husien banyak dikunjungi oleh masyarakat. Sebab, ia bukan hanya wali Allah Swt. yang shalih, tetapi seorang penyebar agama Islam yang berjasa membuat ribuan orang sadar akan Islam sebagai jalan hidup dan petunjuk.

                Di makam Habib Husien, setiap hari-hari besar di peringati berbagai kegiatan yang sudah rutin dilakukan, seperti Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw., yang diadakan pada minggu terakhir bulan Rabiul Awal. Peringatan Haul Habib Husien bin Abu Bakar al-Aydrus, Keramat Luar batang pada hari Minggu terakhir di bulan Syawwal, serta Akhir Ziarah pada bulan Sya'ban, yaitu pada 3 (tiga) hari atau 7 (tujuh) hari menjelang bulan suci Ramadhan.

KH. MUHAMMAD HIDAYAT, JASADNYA TETAP UTUH SAAT KUBURANYA DIPINDAH

                Kisah ini terjadi sekitar tahun 2009 atau pada malam Idul Adha tahun 1430 Hijriah. Waktu itu di Sokaraja, sebuah wilayah kecil di Kabupaten banyumas, Jawa Tengah. Tepatnya, Sokaraja adalah sebuah kiota kecil sekitar 9 kilometer arah tenggara kota Purwokerto, Banyumas. Di daerah tersebut memang banyak berdiri pondok pesantren yang dipimpin oleh kiai-kiai yang cukup berpengaruh di wilayah Banyumas.

                Sokaraja adalah kita santrinya Banyumas. Sebab, hampir seluruh kiai di Banyumas berasal dari wilayah ini. Predikat sebagai kota santri untuk Sokaraja jua berasal dari ketokohan kiai-kiainya. Sampai saat ini, hampir semua kiai di Banyumas melacak genealogi pengetahuannya, langsung maupun tidak langsung, dari beberapa kiai sepuh di Sokaraja. Sokaraja menjadi tempat tinggal beberapa kiai generasi pertama di Banyumas yang mendapatkan pendidikannya dari pesantren-pesantren tua ternama seperti Termas, Bangkalan, dan Lasem serta juga dari Arabia. Di samping itu, Sokaraja melahirkan kiai dari yang politis, ahli fiqh, dan utamanya tarekat. Dari semua itu, barangkali tidak ada yang menyamai reputasi Kiai Saifuddin Zuhri yang pernah menjadi mentersi agama era Soekarno akhir.

                Di antara banyak pesantren di Sokaraja salah satunya adalah pondok pesantren Al-Ma'mur yang dipimpin oleh KH. Muhammad Hidayat, seorang ulama yang pernah menjadi ketua NU Banyumas. Hal yang istimewa dari KH.Muhammad Hidayat adalah jasadnya ditemukan utuh saat makamnya dipindahkan dari makam sebelumnya. Kiai Hidayat sendiri sudah  meninggal beberapa bulan sebelumnya.

                Peristiwa ini bermula dari pesan yang disampaikan KH. Saiful Anwar, pimpinan sebuah pondok pesantren di  Semarang. ia berkata bahwa i mendapat pesan dari almarhum KH.Muhamma Hidayat agar memindahkan jasadnya dari pemakaman umum ke sebidang tanah di dekat masjid Al-Ma'mur. Karena mendapat wejangan dari seorang ulama yang cukup berpengaruh, maka anak-anak almarhum pun menyetujuinya walau dirasa tidak masuk akal.

                Akhirnya, disepakatilah prosesi pemindahan jasad almarhum dilaksanakan pada tengah malam sebelum hari raya Idul Adha 1430 H dengan tujuan agar tidak banyak orang yang mengetahuinya. Sekitar jam 1 malam, rombongan penggali kubur berangkat menuju makam almarhum dengan dipimpin oleh salah seorang putra anak almarhum.

                Penggalian pun dilakukan dengan  hati-hati agar tidak merusak jasad almarhum. Ketika salah seorang menyingkap papan penutup jenazah, ia terheran-heran dan merasa takjub. Subhanallah!  Ternya jasad almarhum masih utuh dan tercium bau harum. Allahu Akbar! Dia menunjukkan sedikit kuasa-Nya kepada kita dengan  mempertahankan jasad hamba-hamba yang dikasihi dan dikehendaki-Nya.

                Kemudian, jenazah segera dimakamkan ke tempat dimakaman ke tempat pemakaman yang baru didekat masjid Al-Ma'mur. Prosesinya berjalan lancar. Pemilihan waktu yang tepat, yaitu malam hari raya Idul Adha, membuat penduduk sekitar tidak banyak yang mengetahui, karena mereka sibuk mempersiapkan keperluan hari raya. Ini memungkinkan para penggali kubur dan ahli waris yang ingin memindahkan makam KH.Muhammad Hidayat dapat leluasa melakukannya, tanpa banyak memancing perhatian penduduk sekitar.

                Dari peristiwa itu, dapat kita ambil pelajaran bahwa sesungguhnya kekuasaan Allah itu tidak ada bandingannya. Selama kita yakin bahwa sesungguhnya kekuasaan Allah itu tidak ada bandingannya. Selama kita yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah benar dan sesuai dengan syar'i, inya Allah, kita akan mendapatkan ridha-Nya. Dan amalan baik yang kita lakukan akan mendapat balasan nikmat yang tiada bandingannya. Salah satunya adalah nikmat kubur yang dialami oleh KH. Muhammad Hidayat.

SITI W., KISAH BUNGONG JEUMPA KORBAN TSUNAMI ACEH

                Salah seorang tim relawan gempa dan tsunami Aceh, Srikawati, menceritakan pengalaman uniknya ketika ia bersama rekan-rekannya membantu seorang sukarelawan yang membantu mengevakuasi korban-korban tsunami yang terjadi Nanggroe Aceh Darussalam, awal tahun 2005 lalu.

                Ketika ia dan teman-temannya mulai merasakan kepenatan mengevakuasi mayat-mayat yang meinggal di balik reruntuhan lokasi bencana, tiba-tiba ia dipertemukan oleh Allah Swt. dengan sebuah peristiwa yang tidak mungkin ia lupakan, yang menghilangkan seluruh rasa penat dan lelahnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dan merasakan bau harum surgawi dari sebuah jasad yang telah meninggal.

                Ia menemukan jenazah bungong jeumpa, julukan orang Aceh untuk seorang gadis, yang berarti bunga cempaka. Bungong jeumpa itu ditemukan dlam keadaan sudah meninggal di balik reruntuhan bangunan. Bau harum menyeruak ketika gadis itu ditemukan, menghalahkan bau harum apa pun di dunia ini. Gadis itu menyunggingkan sebuah senyum manis di wajahnya yang putih berseri ketika meninggal. Anggun. Tubuhnya yang terbalut dalam busana takwa, menujukkan ke-iffah-an dirinya yang senantiasa terpelihara. Meneduhkan setiap orang yang menatapnya.

                Tubuhnya yang harum bukan berasal dari parfum dunia. Wanginya seperti wangi bunga dengan minyak cendana yang sangat berbeda aromanya. Sungguh sulit bagi Srikawati untuk mengungkapkannya. Keharuman jasad bungong jeumpa itu melebihi berbagai jenis wewangian bunga. Terasa sangat segar ketika mendekati jenazahnya, sehingga Sri dan kawan-kawannya tak lagi memerlukan sarung tangan untuk mengevakuasi jenazah itu.

                Itulah salah satu jenazah terindah yang pernah ditemui Sri dalam hidupnya. Kalau dipikir-pikir, rasanya tak mungkin itu terjadi. Tetapi, begitulah kuasa Allah menunjukkan kecintaan-Nya pada hamba yang mencintai-Nya.

                Bagi Srikawati, kenangan itu tak akan pernah terlupakan dan akan disimpan rapi sebagai penguat hati mengejar ridha Ilahi. Tidak semua orang dapat menyaksikan peristiwa semacam ini. Dan, ia adalah salah seorang relawan yang harus banyak bersyukur telah memperoleh nikmat yang tak tergantikan itu.

                Ia ingat betul ketika itu hari ketujuh belas pasca tsunami. Tidak ingat jam berapa, namun yang pasti berada dalam waktu sekitar dhuha. Ketika itu, Sri dan kawan-kawannya sedang menyisir kawasan Lambaro Skep Banda Aceh. Terlihat ada reruntuhan sebuah rumah. Mereka yakin di tempat itu terdapat mayat dan ternyata benar.  Ada tiga mayat wanita terbujur di bawahnya. Salah satu di antara ketika mayat itu menyemburatkan keistimewaan seorang syahidah. Tak ada sedikit pun tanda-tanda kesakitan di tubuhnya setelah dihantam gelombang tsunami. Ia justru tersenyum bahagia untuk selamanya.

                Seluruh mayat-mayat korban tsunami langsung dikebumikan di kuburan massal, tetapi tidak dengan bungong jeumpa. Orang tuanya datang menjemput. Merekalah yang mengurus dan memakamkan jenazah putrinya selamanya.

                Yang paling disayangkan, Sri tak sempat bersilahturahmi kepada orang tuanya untuk bertanya tentang siapakah gerangan sang wanita itu. Tugas mengevakuasi mayat membuatnya harus bergerak cepat. Ia hanya sempat bertanya nama dan amalan apa yang membuat anakanya begitu dimuliakan Allah. Ternyata, bungong jeumpa adalah seorang hafidz (penghafal al-Qur'an), yang bernama Siti W.

                Sayang sekali, ia tidak menemukan informasi lebih jauh tentang bungong jeumpa yang berbau harum itu selain bahwa adalah seorang  hafidz. Maklum, saat gempa, ada lebih dari 120.000 mayat yang meninggal dan harus dievakuasi. Tetapi, pengalaman tersebut memberi pelajaran dan kesan yang dalam bagi yang menemukannya.

                Kisah ini mengutamakan Srikawati untuk terus mendekat kepada Allah Swt. Siang dan malam. Sekaligus memberi pelajaran bagi semua umat Islam, bahwa kematian itu benar-benar sangat indah bagi hamba Allah Swt. yang shalih dan shalihah.

Rabu, 10 Desember 2014

AJAK AJAK AMAL USAHA DAPET 500rb/HARI

BONUS BERKAH Rp. 500.000,-/hari



"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."

(Q.S. Al-Baqarah 2:261)

SEGERA bergabung bersama program CERDAS Seluruh Muslim Nasional dapatkan BONUS BESAR hingga 2JUTA/hari+ SEDEKAH OTOMATIS ke seleuruh Penghafal Al-Qur'an HANYA DENGAN AJAK AJAK AMAL USAHA, Anda SUKSES DUNIA AKHERAT selengkapnya klik disini

Selasa, 09 Desember 2014

KEAJAIBAN SEDEKAH MEMANG NYATA

Banyak orang menjadikan sedekah sebagai amalan untuk meraih hajat yang diinginkan. Memang, demikianlah keutamaan sedekah yang hasilnya pun telah dibuktikan secara nyata oleh banyak orang. Salah satunya adalah seorang sekuriti Bandara yang bisa menghajikan ibunya setelah bersedekah dan memperbaiki shalatnya.

Kisah ini berawal saat Ustadz Maulana sedang berada dalam perjalanan menuju bandara untuk menjemput seorang kolega. Karena capek, ia pun tertidur. Namun tiba-tiba, beliau terbangun karena hendak buang air kecil. Tak lama kemudian ia dan sopirnya sampai juga ke bandara, Ustadz Maulana ingin segera ke toilet, sehingga meminta sopirnya untuk menurunkannya di tempat terdekat menuju toilet.

Saat membuka pintu untuk keluar mobil, tiba-tiba seorang sekuriti bandara memanggilnya. Ustadz Maulana agak terkejut, merasa jangan-jangan ada larangan untuk menurunkan penumpang di sembarangan tempat.



“Pak Ustadz!” Seru sang sekuriti sambil melambai dan mendekatinya. Ustadz Maulana pun berhenti dan menungggu.

“Alhamdulillah, nih. Bisa ketemu langsung dengan Pak Ustadz. Biasanya kan cuma bisa lihat di TV aja...”

Ustadz Maulana pun tersenyum mendengar penuturan sekuriti tersebut. “Saya ke Toilet dulu, ya? “Ujarnya.
“Nanti saya ingin ngobrol, boleh pak Ustadz?” Lanjut sekuriti.
“Saya lagi buru-buru, loh. Tentang apaan sih?” Tanya sang Ustadz.
“Saya bosen jadi satpam, Pak Ustadz,” ungkap sang sekuriti.

Sejujurnya kemudian Ustadz Maulana tersadar. Barangkali Allah memang punya sekenario memberhentikan dirinya di tempat ini dan bertemu dengan sekuriti tersebut.
“Oke, nanti setelah dari toilet, ya?”
Beberapa saat setelah itu...
“Jadi bagaimana, bosen jadi satpam? Emangmnya nggak gajian?” Tanya Ustadz Maulana membuka percakapan di kedai kopi sekitar area itu.
        “Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini saja?”

        Selanjutnya obrolan terus berlangsung. Intinya, Ustadz Maulana menyarankan agar sang sekuriti memperhatikan betul-betul datangnya waktu shalat. Shalat hendaknya di awal waktu. Segera setelah adzan berkumandang. Jika ingin urusannya diperhatikan Allah maka kita pun jangan mengabaikan panggilan Allah. Pakaian pun perlu diperhatikan. Gunakan dan siapkan pakaian terbaik untuk bertemu Allah SWT.

        “Yang kedua,” lanjut Ustadz, “keluarin sedekahnya.”

        Sang sekuriti tertawa. “Pak Ustadz, bagaimana mau sedekah. Hari gini aja nih, udah pada abis belanjaan. Hutang di warung terpaksa dibuka lagi. Alias ambil dulu, bayar belakangan.”

        Selanjutnya, sang sekuriti bercerita bahwa gajinya sebesar 1,7 juta Rupiah per bulan. Itu diperolehnya setelah kerja siang, sore, dan malam selama tujuh tahun. Gaji tersebut untuk bayar motor, kontrakan, susu anak, dan bayar segala macamnya.

        “Secara dunianya, lepas saja itu tanggungan. Kaya motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan nggak perlu?” Tanya Ustadz Maulana setelah tahu sang sekuriti tinggal di mess.

        “Pengen kayak orang-orang, Pak Ustadz,” ujar sekuriti.

        “Yaa... Susah kalau begitu mah. Pengen kayak orang-orang, tapi yang ditiru motornya. Bukan meniru ilmu dan ibdahnya. Bukan meniru cara dan kebaikannya. Wah, benar-benar repot...”

        Selanjutnya Ustadz Maulana menekankan kembali pentingnya tekad kuat sang sekuriti untuk memperbaiki shalatnya. Mulai dari tepat waktu saat shalat wajib, juga menambah amalan shalatnya dengan shalat sunnah seperti shalat taubat, shalat hajat, shalat dhuha, dan shalat tahajudnya. Sang sekuriti pun berjanji akan melakukan semua amalan tersebut mengajak bersama istri dan anak-anaknya. Ia pun benjanji lebih rajin membaca Al Quran.
        Mengenai sedekah, sang sekuriti masih sayang menjual motornya untuk sedekah. Uang tidak punya, apalagi emas. Tak kurang akal, Ustadz Maulana mengusulkan sang sekuriti agar menyedekahkan gajinya bulan depan alias kas bon di awal.

        Di lain hari, karena benar-benar ingin merubah hidupnya, sekuriti yang aslinya punya gelar sarjana akutansi ini memberanikan diri mengajukan kas bon. Alhamdulillah, dikabulkan. Hal ini disebabkan alasan sang sekuriti yang mengikuti saran Ustadz Maulana. Sang Bos dan teman-temannya ingin juga melihat bukti dari kehebatan sedekah dengan melihat perkembangan sang sekuriti selanjutnya. Jika sebelum akhir bulan hutang lagi, berarti saran dan perbuatan pada sekuriti tersebut gagal. Setelah ditunggu-tunggu, ternyata si sekuriti tidak juga datang untuk menghutang lagi. Namun, motornya tidak lagi dilihat kawan-kawannya. Apa yang terjadi?

        Tadinya, si sekuriti sudah siap-siap mau kas bon lagi, karena sampai pertengahan bulan belum ada tanda-tanda keajaiban. Namun, tanpa disangka-sangka si sekuriti ketiban rejeki nomplok. Meski Cuma memediasi antara penjual dan pembeli, ia mendapatkan bagian dari transaksi penjualan tanah di kampungnya. Berapa yang didapatkan ? 17, 5 juta rupiah! 10 x lipat dari yang ia sedekahkan.

Menyadari begitu dahsyatnya kehebatan sedekah, ia malu kepada Allah. Apa yang ia dapatkan sungguh luar dugaannya. Oleh sebab itu, ia pun menjual motor kesayangannya seharga 13 juta rupiah. Ditambah dengan 12 juta dari hasil transaksi tanah, ia memberangkatkan ibunya naik haji. Sisanya yang lima juta pun menjadi bekal keperluannya sehari-hari. Dengan begitu, ia tidak perlu kas bon lagi.

        Cerita sang sekuriti membuat sang Bos menjadi takjub. Dikumpulkannya para staf dan karyawan untuk mendengar penuturan langsung dari sang sekuriti.

        Kisah ini bukan bercerita tentang keajaiban sedekah dan shalat semata, tetapi juga tentang keyakinan. Benar, keyakinan bahwa Allah SWT yang Maha Kaya. Jika Allah SWT sudah berjanji akan memberikan keberuntungan kepada hamba-Nya, ia tidak akan pernah mengikari janji itu.

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki), dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah[2]: 245).


Senin, 08 Desember 2014

NURBANIATI, KORBAN GEMPA YANG JASADNYA HARUM SEMBREBAK

                Musibah gempa berkekuatan 5,8 Skala Richter mengundang guncang wilayah Sumatera Barat pada tahun 2007, diiringi berbagai kejadian luar biasa yang terajadi atas kuasa Allah Swt. Kejadian itu dapat disaksikan langsung dengan kasat mata oleh masyarakat.
                Berbagai kejadian menakjubkan itu hingga sekarang masih menjadi pembicaraan masyarakat. Bahkan, tak kurang hal-hal luar biasa yang disaksikan, menjadi bahan penyuluhan moral sekaligus pematangan mental agama dari berbagai pihak.

                Di kota Padang, masyarakat menyaksikan gumpalan awan membentuk tulisan Allah sekitar 40 menit setelah terjadinya gempa. Tulisan itu sangat jelas dan bisa dibaca oleh banyak orang. Sekitar sepuluh menit kemudian, tulisan Allah berubah membentuk tulisan Muhammad dengan tulisan Arab. Dan, dilihat lebih nyata, di atas huruf  "dal" dari tulisan Muhammad Rasulullah. Kejadian mengejutkan juga terlihat di Bukittinggi dan koto Kabupaten Agam. Masyarakat dengan kasat mata menyaksikan kebesaran Allah dengan gumpalan awan yang bertuliskan nama Allahu Akbar dan Muhammad Rasulullah.Subhanallah! Allah Swt. menunjukan kebesaran-Nya pasca gempa yang dahsyat itu.
                selain itu, kisah lain yang luar biasa saat musibah gempa bumi mengguncang Sumatera Barat, khususnya yang dialami masyarakat Sungai Tanang, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Allah Swt. memperlihatkan kebesaran-Nya kepada umat yang betul-betul tawakal dan menjalankan ibadah debngan khusyuk. Peristiwa tersebut adalah harumnya jasad salah seorang wanita yang meninggal ketika shalat di masjid.

                Wanita itu bernama Nurbaniati, warga Sungai Tanang, salah satu korban yang tewas akibat guncangan gempa dahsyat itu. Nurbaniati adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai empat orang anak. Ia baru ditinggal suaminya sekitar 3 bulan sebelum meninggal. Keseharian Nurbaniati dilalui dengan mengasuh anak dan beribadah. Selama hidupnya, ia dikenal warga sekitar sebagai orang yang sederhana dan istiqamah shalat berjamaah di masjid. Ia meninggal dunia saat menjalankan ibadah Shalat Zhuhur di masjid Al-Amin, Sungai Tanang, ketika gempa mengguncang daerah itu.

                Saat itu, Nurbaniati sedang melakukan jamaah shalat Zhuhur seperti biasa, tiba-tiba gempa terjadi. Saat itu juga, jamaah lain langsung berhampuran keluar, sedangkan Nurbaniati memilih tetap tenang dan khusyuk menjalankan shalatnya Seolah tidak menghiraukan akan terjadinya gempa, Nurbaniati tetap melaksanakan ibadah dan berserah diri kepada-Nya. Ia tak peduli gempa menjemput nyawanya. Ia tetap menjalankan ibadahnya dengan tenang. Ia betul-betul khusyuk beribadah, meski gempa nyata-nyata tlah mengguncang daerah tersebut, termasuk masjid tempat ia shalat berjamaah. Sungguh suatu pemandangan yang jarang terjadi.

                Setelah gempa mereda,  barulah jasad Nurbaniati ditemukan di masjid lengkap dengan pakaian shalatnya. Saat itulah, jasad korban dievakuasi untuk dimandikan, dishalatkan, kemudian dikuburkan. Saat prosesi penyelengaraan, jenazah menyebarkan bau harum luar biasa. Banyak yang menyaksikan kondisi jenazah Nurbaniati sangat bersih, tenang, dan tercium bau harum yang sangat kuat dan menyebar di lokasi prosesi penyelenggaraan jenazah. Rupamnya Allah Swt.. memperlihatkan kebesaran-Nya saat itu.

                Bahkan, banyak orang yang menduga bahwa Nurbaniati mendapatkan rahmat dari Allah Swt. Kekhusyukannya dalam mejalankan ibadah shalat Zhuhur, tak pedul nyawanya terancam sekalipun, itulah yang menyebabkan jenazahnya menebarkan bau harum. Menurut masyarakat dan anggota keluarganya, bau harum itu sangat kuat dan khas. Bukan bau sabun  atau bunga-bunga, harumnya khas (surgawi).

                "Ini luar biasa. Saya takjub sekali! Allah Swt. memperlihatkan kebesaran-Nya," kata Arfinus, staf Humas Pemkab Agama yang berada dilokasi kejadian saat masyarakat memandikan jenazah. Arfinus sendiri mengaku baru pertama kali dalam hidupnya menyaksikan dan mencium bau harum khas itu.

                Bahkan, ia mengaku langsung mengucapkan keagungan nama Allah Swt. bersama puluhan masyarakat lain yang mencium bau harum semerbak yang menyebar di sekitar lokasi prosesi penyelenggaraan jenazah.

                Arfinus langsung menjadikan prosesi pemandian mayat Nurbaniati itu sebagai pelajaran berharga bagi dirinya. Saat mencium bau harum yang khas itu, masyarakat langsung secara  serentak menyebut dan memuji nama dan kebesaran Allah Swt. Bagi kebanyakan warga sekitar, mereka baru pertama kali bertemu salah seorang yang ketika meninggal dunia tubuhnya menebarkan bau harum layaknya para syuhada.

EMPAT PAHLAWAN KEMERDEKAAN YANG JASADNYA MASIH UTUH

                Tidak hanya para wali, penghafal al-Qur'an, dan ahli sedekah yang jasadnya masih utuh setelah bertahun-tahun dikuburkan. Jasad para pahlawan kemerdekaan juga ditemukan utuh dan tidak rusak sedikit pun meski sudah lebih dari 20 tahun dikubur.

                Luar biasa! Enam dari sembilan jasad pejuang kemerdekaan RI didapati dalam keadaan masih utuh, meski telah dimakamkan sejak puluhan tahun silam. Temuan ini didapat saat Pemerintah Kabupaten Probolingg menjalankan program relokasi jenazah pahlawan ke Taman Makam Pahlawan, Kraksaan, Probolionggo , Jawa Timur.

                Dari keenam jenazah yang kain kafannya masih sitemukan utuh adalah Serma RM. Maruto, yang sudah dimakamkan sekitar 29 tahun yang lalu di daerah Kelurahan Semampir, Kecamatan Kraksaan.

                Jenazah pejuang bernama Sahrab kain kafannya juga masih utuh, termasuk semua bagian tubuhnya masih lengkap dari ujung rambut sampai kaki. Sahrab ini sudah 24 tahun yang lalu dimakamkan di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan. Sahrab merupakan prajurit anggota pasukan Hisbullah yang dikomandani almarhum KH. Aminuddin, ayah kandung Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin.

                Empat jenazah lainnya juga masih utuh tubuhnya, meski beberapa bagian dari kain kafannya sudah rusak. Mereka adalah Matram, Sudarman al-Sudarso, Suprato, dan Poernadi. Sedangkan tiga jenazah lainnya sudah dalam bentuk tulang-belulang, mereka adalah Hoedori, Djumi'an, S. Wongsodirejo." Mereka bertiga tetap pejuang, yang harus dihargai," ujar wakil ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Probolinggo, Achmad Soedjadi.

                Dari keenam jenazah pejuang yang direlokasi itu, sosok Serma RM Maruto dan prajurit Sahrab yang paling dianggap memiliki keistimewaan. Puluhan tahun mereka dikubur, kain kafannya tidak dimakan rayap sedikit pun. Bahkan, tubuhnya juga masih utuh tidak dimakan ulat atau cacing tanah. Semasa hidupnya, sepak terjang RM Maruto dan Sahrab cukup bertolak belakang. RM Maruto dikenal tegas, disiplin, dan menjunjung tinggi komitmen. Sedangkan Sahrab dikenal karena kesabarannya.

                Achmad Soedjadi, veteran yang jua ternyata masih keponakan dari RM Maruto juga menggambarkan bahwa selama masa peperangan dulu, pamanya itu dikenalnya pemberani dan tegas. Ketegasannya ini tercermin dalam segala hal. Ketika hal itu menyangkut prinsip, maka ia tidak mau mengubahnya sedikit pun. Kalau sesuatu sudah dianggap benar, maka tidak ada yang bisa mengubah pikirannya. Dan, ia berani memperjuangkan apa yang diyakininya.

                Selain itu, RM Maruto juga dikenal sebagai ahli ibadah dan muslim yang shalih. Keteguhan hatinya untuk membela hak-hak orang lain, memperjuangkan bangsa daan tanah air, menjadikannya pembeda dengan para pejuang di sekitarnya.

                Sementara, salah seorang putra Sahrab yang bernama Sulastri mengatakan bahwa ayahnya itu dikenalnya ayah yang sabar. Meski diejek orang, ia diam saja. Ia hanya bilang, "Tuhan Maha Tahu," ketika ia diejek atau perasaannya dilukai orang.

                Sifat sabar ini memang menjadi kelebihan Sahrab. Sampai orang lain memilih mengalah untuk menang daripada bertengkar dengan orang lain gara-gara harga dirinya diluaki. Mungkin, keistimewaan inilah yang menjadikan mayatnya tetap utuh sekalipun puluhan tahun sudah dikuburkan.

                Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo KH.M.Hasan Saiful Islam Ketika dimintai tanggapan soal utuhnya jasad dari keenam jenazah pejuang itu menjelaskan bahwa dalam Islam, seperti tertulis dalam hadits, bumi akan melindungi jasad seseorang yang memiliki keistimewaan dalam beribadah kepada Sang Khaliq. "Mungkin ada amal ibadah yang istimewa semasa hidupnya. Tetapi, pada umumnya, baik yang memiliki amal baik atau jelek, pasti jasadnya hancur.

                Jelaslah bagi kita semua bahwa siapa yang amalnya baik, maka pasti ia akan mendapatkan balasan. Dan, barang siapa yang amalannya jelek, ia akan mendapatkan balasannya pula. Di atas semua itu, rahmat Allah Swt. juga dapat mengangkat derajat seseorang ke tempat yang lebih tinggi.

NENEK SEGER, 8 TAHUN DIKUBUR TAPI JASADNYA TETAP TAK BERUBAH

                Aneh tanpi nyata, mayat sudah delapan tahun dikubur tapi kondisi tubuhnya masih utuh dan tidak  mengeluarkan bau. Nenek Seger, begitulah namanya, diketahui masih utuh jasadnya setelah dilakukan pembongkaran makam untuk dipindahkan bersama makam suaminya.

                Asal mula pembongkaran mayat tersebut berawal dari pesan terakhir dari mulut Kakek Sajad, suami Nenek Seger, kepada anak-cucunya sebelum meninggal di rumahnya, Jalan Berdikari Lor GM2 Kelurahan Ogan Baru Kertapati. Kakek Sajad sendiri meninggal pada tahun 2008.

                Pria tujuh anak ini meminta dikuburkan berdampingan dalam satu liang dengan mendiang istri tercintanya, Nenek Seger, di TPU Kelurahan Ogan Baru Kertapati yang telah berpulang Januari 2000 lalu. Anak-cucu yang ditinggalkan kemudian mewujudkan permintaan terakhir itu, dengan segera melakukan penggalian sekaligus membongkar makam Nenek Seger.

                Saat itulah fakta terungkap. Delapan tahun dikubur, jenazah nenek tujuh anak 9 cucu ini tetap seger alias utuh setelah dikubur. Kondisi almarhumah yang tercatat sebagai warga dan meninggal pada akhir Januari 2000 lalu itu terlihat masih bugar seperti beberapa jam yang lalu dikuburkan.
                Saat itu, suasana pemakaman Nenek Seger begitu heboh. Di kawasan TPU Simpang Sungki Kertapati, Palembang, menjadi hiruk pikuk dengan ulah  warga yang berdesak-desakan di areal pemakaman. Perhatian mereka terpusat pada aksi lima orang pria berpakaian penuh lumpur yang baru saja mengangkat peti kayu dari liang kubur dan mengeluarkan sesosok jenazah Nenek Seger dari dlam peti itu. Tampak sesosok tubuh terbungkus kain kafan yang dikeluarkan itu tetap utuh, meski warnanya mulai pudar.

                Sesaat kemudian, warga lebih terkejut lagi saat melihat jenazah yang berada di balik kain kafan itu tetap utuh dan seperti baru saja dikubur, tidak ada kerusakan. Bahkan, sempat tercium bau harum cendana di sekitar pemakaman. Padahal, mereka semua tahu kalau tubuh yang terbujur kaku itu sudah meninggal dan dikubur selama delapan tahun. Kabar ini kemudian tersebar ke seluruh kawasan di Palembang sehingga banyak warga sengaja mendatangi TPU tersebut untuk menyaksikan sendiri keanehan itu. Dan, memang benar adanya. Ketika jasadnya diangkat, jasad Nenek Seger masih utuh seperti saat baru dikubur delapan tahun lalu, bahkan terlihat lebih seger.

                Nenek Seger adalah istri dari Kakek Sajad. Mereka berdua dikenal di masyarakat sebagai warga biasa, tetapi sangat taat dalam beribadah. Kedua suami istri itu dikenal masyarakat sebagai seorang yang shalih dan rendah hati. Kedua suami istri ini juga dikenal sebagai keluarga yang rukun.

                Terutama Nenek Seger, ia adalah ibu rumah tangga biasa, seperti pada umumnya masyarakat Palembang. Hanya saja, hal yang membedakannya dengan kebanyakan orang adalah ketaatan Nenek Seger dalam menjalankan perintah Allah Swt. Menjadi pemandangan biasa setiap lima waktu, Nenek Seger pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat jamaah. Selain itu, Nenek Seger juga amat baik terhadap tetangga dan masyarakat sekitar.

                Setelah pembongkaran makam Nenek Seger, keduanya dengan jasad yang masih sama-sama utuh dibungkus kain kafan dan dimasukkan ke peti masing-masing. Selanjutnya, dimakamkan dalam satu liang. Disaksikan pihak keluarga, anak-cucu dan kerabat dekat.

PAK SHALIH, PENGHAFAL AL-QUR’AN YANG SEDERHANA

                Kawasan Bojong Gede, Bogor, di awal tahun 1940-an tidaklah seramai sekarang. Kebun buah masih banyak ditemui di mana-mana. Tanah yang subur dan air yang berlimpah membuat penduduknya hidup dalam kecukupan. Sebagian besar penduduk menjadikan pertanian, terutama berkebun buah, sebagai mata pencaharian mereka.

                Tetapi, ada satu keluarga yang dianggap alim oleh penduduk hanya berkebun ala kadarnya. Mereka turun-temurun lebih fokus pada dakwah dan menjadi guru mengaji.

                Pak Shalih, yang  menjadi motor keluarga itu, adalah keluaran pesantren ternama di Jawa Timur dan seorang yang hafal al-Qur'an. Ia dan keluarganya adalah pendakwah yang pantas diteladani dalam segala hal. Tidak pernah mengeluh menghadapi kehidupan, menuntut penduduk dengan ikhlas untuk mengaji dan mengerti agama.
                Ia tidak pernah menonjolkan diri, tapi agama yang dipelukanya membantunya dihormati oleh orang lain karena ilmunya. Bagi seorang peghafal al-Qur'an, akhlak adalah sesuatu yang sangat utma. Karena, kalau ada yang berjalan tidak sesuai dengan syariat yang telah ditentukan oleh Allah Swt., sulit baginya untuk menjadi seorang penghafal al-Qur'an. Menjadi seorang  hafizh bukan hanya perkara hafal menghafal, tapi juga mencakup seluruh keutamaan yang harus dipunyai.

                Pak Shalih mendidik keluarganya dengan penuh kasih sayang, mengamalkan agama dengan ikhlas, dan hidup dengan sederhana sesuai yang dicontohkan Rasulullah Saw. Akhlaknya yang begitu mulia dikenang penduduk dan lekat dalam memori mereka.

                Ketika nama Pak Shalih disebut, beberapa orang tua yang masih hidup dan pernah bertemu dengannya menyebut namanya dengan penuh takzhim. Dan, ketika diceritakan ihwal peristiwa yang baru terjadi menyangkut jasad Pak Shalih, mereka tidak kaget.

                Pak Shalih tidak pernah muluk-muluk dalam hidupnya. Apa yang dilakukannya, itulah yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Dalam bergaul dengan sesama, menghadapi objek dakwah, bergaul dengan keluarga semuanya mencontoh Rasulullah Saw.

                Sifat sederhana dan menerima apa adanya tercermin dari hidupnya sehari-hari. Dalam membagi ilmu, ia tidak pernah menyembunyikan apa pun. Banyak kader yang dibinanya dengan tulus untuk melanjutkan estafet menghafal al-Qur'an dan semuanya tidak pernah dipungut bayaran.

                Karena segala yang dilakukannya tidak pernah sedikit pun keluar dari rel yang telah ditentukan oleh Allah Swt., hidupnya pun dijamin oleh-Nya. Bukankah Allah Swt. tidak pernah ingkar dengan janji-janji-Nya? Apa saja kebutuhan hidupnya terpenuhi, walau ia tidak pernah meminta imbalan apa pun dari kegiatan dakwah yang dilakukannya.

                Banyak sekali keutamaan yang dimiliki Pak Shalih, sehingga ia pun jadi teladan bagi masyarakat di sekitarnya. Mereka yang dulu kanak-kanak dan kini sudah sepuh mengenangnya sebagai guru mengaji yang penyanyang dan berhati lembut. "Beliau tidak pernah marah, dan dengan telaten membetulkan setiap hafalan muridnya yang sering salah," kenang seorang laki-laki sepuh yang ketika menjadi murid Pak Shalih masih duduk disekolah rakyat.

                Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama  harum yang selalu dikenang. Berita tetang jasad utuhnya ketika kuburannya digali menjadi buah bibir di kawasan Bojong. Itu adalah salah satu bukti kebesaran Allah Swt. Bukankah sudah begitu banyak bukti yang Allah Swt. perlihatkan di muka bumi ini agar manusia menjadi sadar? Tetapi, mengapa kebanyakan manusia tidak memikirkannya dan tidak mengambil pelajaran?

                Cerita utuhnya jasad Pak Shalih terjadi beberapa bulan lalu, tepatnya Januari 2013. Saat itu, orang-orang ramai mengitari pemakaman. Mereka adalah sanak kerabat yang akan menyaksikan pemidahan kerangka di pemakaman itu. Sebagian tanah makam akan dijadiakan jalan umum untuk memperlancar arus lalu lintas yang semakin ramai.

                Pada awalnya, eksekusi itu berlangsung alot, tidak semua waris mau menerima rencana proyek itu. Mereka menyayangkan mengapa harus tanah makam yang dikorbankan.

                Satu per satu  kerangka mulai dipindahkan dengan hati-hati. Beberapa penggali kubur terus berkutat dengan tanah, membongkar kuburan yang telah ditentukan. Seorang ustadz ikut serta mendampingi ahli waris dalam setiap prosesi pemindahan. "Kuburan HM.Shalih, mana ahli warisnya?" tanya si ustadz ketika akan membongkar makam terakhir. Para penggali kubur bersiap-siap dengan cangkul dan linggis.

                Tiga wanita berpakaian muslim dan empat pria maju ke dekat kuburan. Ingin menyaksikan makam ayah mereka digali.

                Mereka berdoa, membaca surat al-Fatihah, sementara para penggali kubur mulai mengerjakan tugasnya. Panas mentari mulai terasa menyengat. Walau pun sudah dimulai agak pagi, tetap saja pada akhirnya panas juga terasa. Orang-orang yang ramai di pemakaman itu mulai kegerahan, beberapa wanita mengembangkan payung yang dibawanya. Peluh mengucur di wajah para penggali kubur.
                Dengan cepat mereka sudah hampir sampai di posisi jenazah disemayamkan. Namun, seorang penggali kubur tiba-tiba meloncat keluar sambil bertakbir dan mengucapkan istighfar. "Allahu Akbar! Astagfirullah!"

                Orang-orang yang kegerahan dan berteduh di bawah beberapa pohon kamboja mendekat. Penggali kubur tadi menceritakan apa yang dilihatnya. Penggali kubur tadi menceritakan apa yang dilihatnya. Kain kafan pak shalih ternyata masih utuh, terkait dengan sempurna dan tidak ada cacat sedikit pun.

                Beberapa ahli waris HM. Shalih mendekat, begitu juga sang ustadz yang mengawasi penggalian. Setelah itu, salah seorang putra alharhum mendekat dan masuk ke liang kubur bersama penggali kubur. Benar apa yang dikatakan oleh penggali kubur tadi, jasad sang ayah masih utuh, kain kafannya tidak ada robek sedikit pun.

                Anaknya itu mengingat-ingat, ayahnya wafat ketika ia berusia lima tahun. Sementara, umurnya sendiri saat ini adalah 45 tahun. Berarti sudah 40 tahun ayahnya dikubur, tapi jasadnya masih utuh.

keluarga beramai-ramai mendekat ke liang lahat. Dengan hati-hati, para penggali kubur mengangkat jasad ke tepi liang kubur. Subhanallah! Jasad itu masih berat. Takbir dan tasbih yang membahana membuat orang ramai berkerumunan di lokasi kuburan itu. Terlihat sekilas wajah almarhum masih utuh dan tampak mengulas senyum.

Keranda diturunkan dari mobil jenazah yang disiapkan untuk membawa kerangka-kerangka mayat. "Ahli waris mohon membuka kain kafan, untuk memastikan apakah jasad itu benar atau tidak," ujar si ustadz menyerahkan. Seorang wanita paruh baya memberanikan diri untuk mendekat, ia anak  kedua Pak Shalih. ia berdoa dekat jasad ayahnya lalu membuka ikatan kafan satu per satu.

Setelah semuanya terbuka, pekikan takbir kembali terdengar. Keluarga seolah menyaksikan kembali  wajah HM. Shalih ketika hidup. Tidak kurang sesuatu apa pun, persisi seperti ketika dikubur 40 tahun yang lalu. Beberapa kerabat yang lain bertangisan tapi juga memuji kebesaran Allah Swt. Sebuah kejadian langka yang tentu menyimpan banyak kisah di baliknya. Menjelang adzan zhuhur berkumandang, prosesi pemindahan jenazah berakhir.

Semua orang mengambil pelajaran dari peristiwa itu. Mereka tersadar dan teringat bahwa nikmat kubur benar adanya. Dan, seperti yang sering dijelaskan, mati adalah pintu surga. Karena itu, barang siapa yang telah meninggal dunia dan mendapat nikmat kubur, mereka juga akan mendakat nikmat surga.


Kamis, 04 Desember 2014

TRIYANI BINTI KARTOMULYO, JASADNYA UTUH BERKAT SUKA MEMBERI

                Tidak hanya para syuhada, kiai, dan hafidz al-Qur'an yang jasadnya utuh dan harum, orang-orang yang rajin sedekah dan memberi pun bisa utuh dan harum jasadnya. Hal ini dibuktikan oleh seorang yang bernama Triyani, warga Ciomas, Bogor.

                Nama lengkapnya Triyani binti Kartomulyo, seorang wanita ahli sedekah yang sudah 19 tahun dikubur. Kabar utuhnya jasad Triyani ini bermula saat penggalian makam almarhumah di TPU Kampung Bubulak RT 1/RW 09, Desa Laladon, Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, pada Kamis pagi tanggal 14 Februari 2013. Saat digali, jasad dan kain kafannya masih utuh juga tak berbau busuk, padahal papan kayu penutup makam sudah hancur menjadi tanah.


                Pembongkaran makam Triyani itu dilakukan anak-anak almarhumah untuk memindahkan jasadnya ke Purwodadi, Jawa Tengah, disandingkan di samping makam suaminya.

                Pemindahan itu sendiri dilatari oleh keadaan kompleks makam Triyani yang makin rusak tergerus air sungai Ciapus. Sebelumnya, beberapa makam sudah hanyut dan rusak.

                Usai digali, jenazah Triyani disemayamkan di rumah Teguh, anak keduanya, ti Perum Taman Pagelaran, Ciomas, Bogor. Spontan, rumah Teguh pun kebanjiran tamu yang ingin berkunjung dan melihat keajaiban itu dari dekat.

                Di rumah ini, jenazah yang meninggal pada 20 Juni 1994 ini dibaringkan di atas tikar plastik. Tampak kain kafannya masih utuh membungkus jasad almarhumah, meski warnanya telah memudar dan bercampur tanah. Yang membuat warga takjub, pada jasad almarhumah masih menempel daging dan kulit, walau terlihat mengecil. Warga semakin heran, karena jasad ini tidak mengeluarkan bau alias harum.

                Keshalian Triyani semasa hidupnya adalah suka bersedekah. Almarhumah dikenal sebagai wanita dermawan, pemnyabar, jujur, dan suka memberi. Meski hanya berprofesi sebagi seorang pedagang makanan, ia selalu memberi bantuan bagi warga atau pengemis dan gelandangan yang kelaparan dan mampir ke warungnya.

                Menurut keluarganya, Triyani adalah sosok dermawan dan suka membagikan dagangannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Pengemis dan gelandangan, sering dikasih makan kalau  lewat di depan warungnya.

                Mungkin inilah keajaiban dari sedekah serta keberkahannya. Selama masih hidup, Triyani tidak akan menyangka bahwa ketika tiba saatnya ia mati, jasadnya akan utuh dan berbau harum. Ternyata, jika dilakukan dengan ikhlas, istiqamah, dan mengharap ridha Allah Swt, amalan sekecil apa pun akan membuahkan hasil yang amat besar.

Info PELUANG USAHA SAMPINGAN untuk sahabat muslim


kesempatan bagi anda yang ingin berangkat umroh, dengan cara murah dan mudah, TERBUKTI sudah banyak sahabat lain yang berangkat ibadah umroh secara GRATIS dan mendapatkan BONUS 450 JUTA langsung ditransfer ke rekening.....

ads by google

Artikel Favorit